Suara.com - Banjir rob yang berulang di pesisir Demak, Jawa Tengah, tidak hanya mengubah lingkungan dan mata pencaharian warga. Bagi perempuan pesisir dan nelayan perempuan, dampaknya juga dirasakan melalui tubuh, kesehatan, beban pekerjaan, hingga tekanan emosional.
Pengalaman tersebut direkam peneliti School of Geography, University of Leeds, Inggris, Andi Misbahul Pratiwi, menggunakan metode body mapping atau peta tubuh. Hasil penelitiannya dipublikasikan dalam jurnal Area edisi 2026.
Penelitian berlangsung selama tujuh bulan pada 2024 di tiga desa, yakni Morodemak, Purworejo, dan Timbulsloko. Pratiwi bekerja sama dengan Puspita Bahari, gerakan perempuan nelayan di Demak yang memperjuangkan hak nelayan perempuan sejak 2005 dan kini juga mengadvokasi keadilan iklim.
Menurut Pratiwi, rob bukan sekadar peristiwa bencana yang datang sesekali. Genangan air laut yang berulang perlahan mengubah lanskap, sumber penghidupan, dan hubungan sosial masyarakat.
Dampaknya juga tidak dirasakan secara merata. Perempuan pesisir menghadapi risiko ketimpangan gender yang dapat semakin berat, mulai dari beban kerja berlapis, perkawinan anak, kekerasan berbasis gender, hingga persoalan kesehatan reproduksi.
Menggambar Dampak Rob pada Tubuh
Metode body mapping digunakan untuk merekam pengalaman yang sulit ditangkap melalui data atau wawancara biasa. Peserta diminta menggambar tubuh, aktivitas sehari-hari, lingkungan tempat tinggal, serta perubahan yang mereka rasakan akibat rob.
Lokakarya tersebut melibatkan 31 perempuan berusia 20 hingga lebih dari 60 tahun. Sebagian besar peserta hanya menamatkan pendidikan sekolah dasar.
Mereka dibagi dalam kelompok kecil dan menggunakan kertas berukuran A0 serta spidol warna. Warna merah digunakan untuk menandai bagian tubuh yang mengalami nyeri atau tekanan emosional, sedangkan hijau menunjukkan sumber kegembiraan, kekuatan, dan dukungan.
Dari kegiatan tersebut, dihasilkan tujuh peta tubuh.
Salah satu gambar dari Morodemak memperlihatkan perempuan nelayan membawa keranjang ikan. Tanda merah terlihat di bagian kaki, pinggul, tangan, dan kepala. Sementara itu, simbol hati di sekitar rumah Puspita Bahari menggambarkan ruang yang memberikan kebahagiaan dan dukungan komunitas.
Pengalaman yang Tidak Selalu Mudah Diceritakan
Proses penelitian dirancang bersama peserta. Mereka ikut menentukan lokasi, metode kelompok, hingga jadwal kegiatan yang disesuaikan dengan pasang air laut.
Selama lokakarya, muncul beragam respons emosional. Di Purworejo, seorang peserta menangis ketika menceritakan jaring ikan yang hilang akibat badai. Sementara di Timbulsloko, sejumlah peserta justru merasa senang karena sudah lama tidak menggambar. Sebagian bahkan menceritakan rumah yang terendam dengan humor.
Pratiwi juga menemukan bahwa sejumlah pengalaman, terutama terkait kekerasan berbasis gender dan kesehatan reproduksi, tidak mudah disampaikan dalam kelompok. Karena itu, ia membuka kesempatan wawancara lanjutan secara individual.
"Peserta tetap menjadi pencerita dan penafsir utama atas pengalaman tubuh mereka," tulis Pratiwi dalam penelitiannya.
Menjadi Bahan Advokasi Perempuan Pesisir
Hasil body mapping tetap menjadi milik peserta dan Puspita Bahari. Dengan persetujuan peserta, karya tersebut kemudian digunakan sebagai bahan advokasi, termasuk dalam buku ilustrasi Banjir Rob: Perempuan, Perikanan, dan Krisis Iklim di Indonesia yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Buku itu dimanfaatkan Puspita Bahari untuk menyampaikan pengalaman perempuan pesisir kepada publik yang lebih luas, termasuk pembuat kebijakan.
Penulis: Inesia Dian