- Pelajar Gaza menghadapi ancaman tewas terkena peluru penembak jitu dan bom Israel saat sekolah.
- Penembakan di dekat sekolah darurat memicu trauma berat dan penurunan kehadiran para siswa.
- Perluasan wilayah kontrol militer Israel makin memperbesar risiko kematian anak-anak di Gaza.
Suara.com - Pelajar di Gaza harus menembus bahaya maut akibat tembakan penembak jitu dan bom Israel demi bisa belajar. Pembantaian terus mengincar nyawa anak-anak yang berusaha kembali menduduki bangku sekolah darurat.
Tragedi memilukan menimpa Mohammed Hamad yang tewas seketika akibat gempuran udara di Deir el-Balah. Remaja berusia 14 tahun tersebut diserang saat berjalan pulang bersama adik kandungnya.
Riyad Hamad kehilangan anak ketiganya yang dikenal sebagai salah satu murid paling berprestasi di kelasnya. Kejadian tragis ini memukul batin sang ayah yang harus menyaksikan kepergian putra terbaiknya.
“Dia bukan sekadar putra saya, dia adalah sahabat saya. Dia melakukannya dengan sangat baik. Semoga Allah merahmatinya,” kata Riyad Hamad dikutip dari Al Jazeera.
Kehilangan kakak tercinta memberikan pukulan psikologis mendalam bagi Abdullah yang berhasil selamat dari ledakan. Bocah sepuluh tahun itu kini dicekam ketakutan luar biasa setiap kali diharuskan melangkah ke luar rumah.
“Mohammed biasa bertanya kepada saya: ‘Bagaimana aku bagimu?’ Demi Allah, saya tidak pernah meminta lebih darinya.”
Riyad menyaksikan sendiri bagaimana trauma parah membelenggu anaknya yang tersisa pasca-insiden serangan tersebut. Kepergian sang kakak memutus keberanian sang adik untuk melangkah menuju sekolah sendirian.
“Dia menjadi sangat takut untuk pergi ke sekolah. Mereka biasa pergi bersama setiap hari dan pulang bersama. Sekarang dia tidak bisa menerima kenyataan harus pergi sendirian.”
Rasa takut meluas di kalangan orang tua yang harus melepas buah hati mereka di tengah ancaman kecemasan. Pembunuhan anak-anak telah memutarbalikkan takdir kehidupan keluarga di Gaza.
“Kami hidup dalam ketakutan. Ketika saya keluar ke jalan, demi Allah saya takut. Bahkan ketika saya berjalan atau duduk di dalam mobil, hati saya dipenuhi ketakutan … Mengapa anak-anak kami harus hidup dengan ketakutan dan kecemasan yang terus-menerus ini, bahkan hingga detik terakhir?”
“Cukup sudah. Anak seharusnya memakamkan ayahnya, bukan ayah memakamkan anaknya. Mereka telah memutarbalikkan tatanan hal-hal ini.”
Gedung dan tenda darurat tak mampu melindungi para siswa dari intaian proyektil mematikan pasukan Israel. Rentetan serangan udara tetap dilancarkan meskipun kesepakatan penghentian tembakan telah disepakati.
Kementerian Kesehatan mengonfirmasi ribuan warga Palestina gugur serta luka-luka pasca pembukaan kembali aktivitas kelas. Kalender akademik yang sempat terhenti selama tiga tahun kini disambut hujan peluru.
Tragedi penembakan kembali menimpa Suad Abd Rabbo saat melangkah menuju sekolahnya di wilayah Jabalia. Proyektil peluru bersarang tepat di atas lutut bocah kelas empat sekolah dasar tersebut.
Aliaa Abd Rabbo langsung berlari tanpa alas kaki setelah mendengar jeritan putri kandungnya yang bersimbah darah. Dokter memperingatkan bahaya kelumpuhan permanen jika proyektil di dalam kaki Suad dipaksa diangkat.