- Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim dua kapal tanker terbakar akibat menabrak ranjau di Selat Hormuz pada Jumat, 6 November 2026.
- Militer Iran menyatakan berhasil mencegat pesawat nirawak MQ-1 milik Amerika Serikat untuk menggagalkan aktivitas intelijen di sekitar Pulau Qeshm.
- Konflik dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz berpotensi mengancam pasokan energi global serta memicu kenaikan harga minyak dunia.
Suara.com - Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim dua kapal tanker terbakar akibat menabrak ranjau saat melintasi jalur pelayaran strategis tersebut pada Jumat (6/11).
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut kedua kapal tanker itu berusaha meninggalkan wilayah perairan Selat Hormuz melalui rute yang dianggap tidak sah atau dilarang.
Iran juga menuding kedua kapal mematikan sistem navigasi dan identifikasi serta mendapat dukungan militer Amerika Serikat (AS).
"Dua kapal tanker, yang mematikan sistem navigasi dan identifikasi, dengan dukungan militer agresor Amerika, berupaya meninggalkan wilayah tersebut melalui rute yang dianggap tidak sah atau dilarang di Selat Hormuz. Kapal-kapal itu kemudian menabrak ranjau yang mengakibatkan kebakaran dan menghentikan laju kapal," demikian pernyataan IRGC dilansir dari laman Antara, Sabtu (7/11/2026).
Namun, klaim mengenai penyebab kebakaran dan keterlibatan kedua kapal tersebut belum dapat dipastikan secara independen.
Selain insiden kapal tanker, IRGC juga mengumumkan keberhasilan mencegat pesawat nirawak MQ-1 milik AS. Militer Iran turut mengklaim telah menggagalkan aktivitas intelijen Amerika di sekitar Pulau Qeshm, wilayah selatan Iran.
Rangkaian klaim tersebut menambah ketegangan di kawasan Teluk Persia, terutama di tengah konflik berkepanjangan antara Iran dan koalisi AS-Israel.
Selat Hormuz Jadi Titik Rawan Konflik AS-Iran
Konflik terbaru antara AS, Israel, dan Iran bermula pada 28 Februari, ketika Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Iran kemudian melancarkan serangan balasan.
Meski intensitas permusuhan sempat mereda, konflik kedua pihak belum sepenuhnya terselesaikan. Situasi ini membuat kawasan Timur Tengah tetap rentan terhadap eskalasi militer baru.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling strategis dalam konflik tersebut. Jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini merupakan koridor utama pengiriman minyak mentah, produk petroleum, dan gas alam cair (LNG) ke pasar internasional.
Gangguan pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi global. Risiko keterlambatan pengiriman maupun terhambatnya distribusi minyak dapat mendorong kenaikan harga energi dan biaya transportasi di berbagai negara.
Karena itu, setiap eskalasi militer di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi menimbulkan tekanan terhadap pasar minyak dunia dan perekonomian global.
Ancaman terhadap jalur pelayaran ini pun menjadi perhatian internasional, mengingat ketergantungan banyak negara terhadap pasokan energi yang melewati Selat Hormuz.