NTB.Suara.com - Puasa bukan merupakan praktik keagamaan yang hanya dilakukan umat Islam. Hampir semua agama, termasuk Kristen dan Katolik juga memiliki laku menahan diri, dari makanan atau pun perilaku tertentu.
Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat 183 juga sudah menyebut “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”.
Pendeta Gilbert Lumoindong dalam kanal youtubenya pada 13 Januari 2020 pun menjelaskan, puasa juga diajarkan dalam Kristen Protestan.
Puasa dalam Gereja Kristen Protestan di antaranya puasa Yesus selama 40 hari, sebagaimana tertulis dalam Mathius 4 Ayat 2 yang berbunyi: “Dan setelah berpuasa 40 hari dan 40 malam akhirnya laparlah Yesus”.
Dia juga mengatakan ada puasa 7 hari adalah Puasa tidak makan tapi tetap minum. Juga ada yang 3 hari, tidak makan tapi minum.
“Tapi ada juga begini, puasa 40 hari tapi tetap setiap sore makan. Jadi sore itu buka sekaligus tutup puasa,” tandasnya dikutip Selasa (21/3/2023).
Tapi, kata dia, Tuhan tidak tertarik dengan aturan jamnya. Tuhan tertarik dengan hatinya, yang sungguh-sungguh.
“Khusus untuk puasa 40 hari dan 7 hari disarankan tidak lagi melakukan kegiatan yang rutin seperti bekerja atau apa pun karena tubuh akan lemah. Lebih baik di gunung, atau di rumah, atau di gereja, fokus berdoa,” tandas dia.
Begitu juga dalam Katolik. Romo Rudy Hartono, Pr, menjelaskan bahwa agama Katolik juga ada puasa. Puasa dan pantang dilakukan pada hari-hari khusus. Ada pantang di hari tertentu, misal Jumat. Ada juga puasa Pra Paskah yang berlangsung 40 hari.
Puasa adalam Katolik merupakan makan kenyang sekali sehari, dan pantang diartikan mengurangi makanan tertentu, seperti daging, hiburan, atau kesukaan-kesukaan, seperti merokok.
“Puasa ini untuk Latihan mengendalikan diri,” katanya dalam tayangan kanal Youtube Pojok Iman 13 Februari 2021,
Dia mengatakan puasa Katolik terkandung nilai rohani yang dalam. Puasa Katolik tidak ada artinya jika dijalankan tanpa semangat taubat, menyangkal diri, dan mati raga.
“Menjadi murid Kristus berarti mengikuti Kristus dalam penderitaan, dalam kematian, dan dalam kebangkitan Yesus,” tandasnya. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
- 5 Parfum Wanita Terbaik untuk Acara Malam, Wanginya Elegan dan Memikat
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Mau ke Monas Malam Ini? Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Titik Parkir Konser Akbar 2026
-
Dua Mahasiswa Diduga Jadikan Instagram Lapak Tembakau Sintetis
-
Pelatih Spanyol Lebih Takut Naik Helikopter Dibanding Lawan Lionel Messi di Final Piala Dunia 2026
-
Kanker pada Perempuan Kini Bisa Ditangani Lebih Personal, Terapi Presisi Bawa Harapan Baru
-
Dari Propaganda hingga Pengawasan: Mengapa 1984 Tetap Relevan di Zaman Digital
-
DPR Sentil Pihak SPPG saat Rapat: 120 Juta Penerima Manfaat, Siapa yang Mau Diberi Makan?
-
Liga Sepak Bola Kampung, Ikhtiar Jaga Anak Muda Menteng dari Bahaya Narkoba
-
15 Kepala Daerah Hasil Pilkada 2024 Kena OTT KPK, Ongkos Politik Mahal Jadi Pemicu?
-
Membaca, Menunda, Lupa: Ketika Balasan Chat Hanya Berakhir di Kepala
-
Dompet Karyawan Alfamart Dicuri, Polisi Lampung Utara Temukan Fakta Tak Terduga Saat Tangkap Pelaku