Suara.com - Teheran mengambil langkah penuh kehati-hatian sebelum menyepakati draf perdamaian final yang diajukan oleh Amerika Serikat. Pemerintah Iran memilih meneliti dokumen tersebut secara mendalam dan belum memberikan jawaban resmi apa pun terkait tawaran Washington.
Sikap skeptis ini muncul karena Teheran tidak ingin terjebak dalam komitmen yang merugikan di masa depan. Mereka menuntut keuntungan riil yang dapat langsung dirasakan sebelum menandatangani dokumen tersebut.
Dikutip dari Anadolu, sumber yang mengetahui isu ini menyebutkan, “sejarah ketidakpatuhan Amerika Serikat dan ketidakpercayaan yang telah berlangsung lama” membuat Teheran memandang persoalan ini dengan “sangat hati-hati.” Rekam jejak tersebut membuat proses diplomasi berjalan sangat alot.
Stabilitas di kawasan Timur Tengah sendiri terus bergejolak dalam beberapa bulan terakhir. Ekskalasi bersenjata sempat meluas dan mengancam jalur perdagangan internasional utama dunia.
Ketegangan di wilayah tersebut memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel menginisiasi serangan gabungan ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Blok militer Teheran segera merespons dengan menggempur target-target vital milik Israel dan sekutu Washington di wilayah Teluk.
Militer Iran bahkan sempat mengambil tindakan ekstrem dengan memblokade total jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi distribusi minyak mentah global.
Pakta gencatan senjata sementara sebenarnya sudah mulai diterapkan sejak 8 April melalui bantuan mediasi dari pemerintah Pakistan. Sayangnya, tindak lanjut meja perundingan di Islamabad berakhir buntu tanpa menghasilkan kesepakatan jangka panjang.
Kendati proses negosiasi berulang kali menemui jalan buntu, saluran komunikasi diplomatik antarnegara tetap diupayakan. Para mediator internasional terus mencari titik temu guna menghentikan pertumpahan darah.
Kini, Iran mengajukan sejumlah tuntutan mutlak yang wajib dipenuhi jika ingin mewujudkan perdamaian yang bersifat permanen. Salah satu poin krusialnya adalah penghentian total seluruh operasi militer di semua lini pertempuran yang sedang bergejolak.
Baca Juga: Lebanon Bongkar Kebohongan Israel di PBB: Klaim Bela Diri, tapi Serang RS hingga Situs Warisan Dunia
Tuntutan tersebut mencakup penghentian agresi di wilayah Lebanon yang menjadi medan tempur baru dalam beberapa pekan terakhir. Gempuran militer Israel di wilayah Lebanon diketahui masih aktif berkecamuk sejak awal Maret lalu.
Merespons situasi geopolitik yang kian pelik, tekanan internasional terhadap Israel mulai dilayangkan oleh sekutu utamanya. Gedung Putih secara langsung meminta Tel Aviv untuk segera meredakan ketegangan militer di wilayah Lebanon.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Senin, mengatakan bahwa dirinya telah meminta Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu untuk menarik pasukan dari Beirut. Langkah ini diharapkan mampu memecah kebuntuan dalam proses penandatanganan kesepakatan damai global.
Berita Terkait
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Digaji Rakyat tapi Maling, Birokrat dan BUMN Nakal Siap-siap Kena Sikat
-
Rumah Sentul Jadi Materi Pemeriksaan, Febrie Klaim Sudah Dihibahkan ke Anaknya
-
Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Febrie Adriansyah Tak Ditahan
-
Prabowo Pasang Badan untuk Petani, Minta Pengkritik Harga Beras Tanam Padi Sendiri
-
Hotman Paris: Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tapi Isinya Milik Orang Lain
-
Didampingi Hotman Paris, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Lolos dari Penahanan Usai Diperiksa 10 Jam
-
Dosen UGM Diancam Sebar Data Pribadi hingga Dilacak Lewat Google Maps Usai Kritik Menteri PU
-
Hadiri Rakorwil PSI Bengkulu, Kaesang Pangarep: Masa Gajah Kalah dari yang Lain?
-
Balita Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Kemen PPPA Usul Asesmen Pengasuhan Sebelum Menikah
-
Terekam CCTV dan Viral di Medsos, Remaja Pengancam Pakai Golok di Citeureup Diringkus Polisi