Otomotif / Mobil
Minggu, 04 Oktober 2020 | 07:25 WIB
[DW Indonesia].

Parade adalah cara cerdas untuk menunjukkan kekuatan militer meskipun ada sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Pyongyang, ujar Jung H. Pak.

Pernah menjadi analis CIA, Jung H. Pak sekarang menjabat sebagai rekan senior di Brookings Institution, sebuah wadah pemikir terkenal di Washington DC.

Kepada DW, Pak mengatakan, "Parade itu berguna, karena mereka dapat menunjukkan kemampuan tanpa adanya pengujian, yang dapat menimbulkan sanksi. Sangat sedikit yang dapat kita lakukan untuk menanggapi parade dan pertunjukan kemampuan baru seperti ini."

Senjata strategis jenis baru?

Tetapi apakah parade 10 Oktober akan menampilkan pameran perdana lainnya?

Akankah dunia akhirnya melihat "senjata strategis baru" yang dijanjikan Kim dalam pidatonya di hadapan Politbiro Partai Buruh pada Desember 2019?

Sejauh ini, hanya ada perkiraan yang tidak begitu pasti.

"Kami masih menunggu," kata Jaewoo Shin dari Open Nuclear Network.

Korea Utara menguji sembilan rudal jarak pendek pada awal dan akhir Maret lalu, dan belum melakukan uji coba lagi sejak itu.

Baca Juga: Kawasaki Ancang-ancang Rilis Sederet Motor Baru, Ada Enam Unit!

Meski mereka tidak melakukan pengujian, pengamat internasional mengatakan Korea Utara terus menambah persenjataannya.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA), misalnya, dengan keras mengkritik program nuklir negara itu.

Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menyebutnya sebagai “pelanggaran nyata terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan” pada 20 September.

Inspektur IAEA belum memiliki akses ke fasilitas nuklir Korea Utara sejak 2009.

Kim Jong Un sendiri menggarisbawahi pentingnya kemampuan nuklir negara itu dalam pidato yang disampaikan kepada para veteran Perang Korea (1950-53) akhir Juli lalu.

Ia mengatakan bahwa negaranya sekarang dapat mempertahankan diri dari ancaman militer yang ditimbulkan oleh pasukan musuh.

“Berkat penangkal nuklir kita yang andal dan efektif, keamanan dan masa depan negara kita akan dijamin selamanya.”

Hubungan yang kian tegang dengan Amerika Serikat

Hubungan dingin antara Korea Utara dengan Amerika Serikat mungkin juga menjadi alasan bagi DPRK untuk menunjukkan kekuatan militer pada hari libur nasional yang begitu penting di negara itu.

Parade militer besar terakhir yang dipentaskan di Korea Utara diadakan di Pyongyang pada September 2018. Saat itu, DPRK merayakan ulang tahun ke-70 berdirinya negara.

Saat itu dipamerkan tank, jet tempur, dan peluncur rudal, tetapi tidak ada rudal balistik.

Perayaan itu berlangsung di tengah fase baru pemulihan hubungan Korea Utara-Amerika Serikat yang hanya berselang beberapa minggu setelah pertemuan bersejarah pertama antara Kim Jong Un dan Presiden Donald Trump di Singapura pada Juni 2018.

Tetapi hubungan telah memburuk sejak gagalnya putaran kedua pembicaraan mereka di Vietnam pada KTT AS-DPRK Hanoi pada Februari 2019.

Dalam pernyataan resmi yang disampaikan kepada media milik pemerintah Korea Utara KCNA, Kim Yo Jong - adik perempuan Kim Jong Un - mengatakan dia melihat sedikit peluang untuk mengadakan pertemuan puncak pada akhir tahun.

"Saya ragu bahwa hal-hal seperti pembicaraan KTT DPRK-AS akan terjadi tahun ini,” ujarnya sambil menambahkan bahwa tidak seperti bagi Amerika Serikat, pembicaraan seperti itu “tidak bermanfaat sama sekali buat kami.”

Itu adalah pesan yang jelas dan pesan berikutnya mungkin akan datang hanya dalam waktu beberapa hari di parade militer pada 10 Oktober nanti.  (ae/vlz) Diadaptasi dari artikel asli berbahasa Jerman oleh Jon Shelton

Load More