Otomotif / mobil
Dythia Novianty | Manuel Jeghesta Nainggolan
Ilustrasi pameran kendaraan listrik, Electric Motor Show. [Suara.com/Arya Manggala]

Suara.com - Ketua Umum Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM), Hamdhani Dzulkarnaen Salim memperkirakan, sekitar 47 persen perusahaan komponen yang menjadi anggota asosiasinya, akan terdampak kebijakan kendaraan listrik.

"Perusahaan yang memproduksi mesin dan ribuan komponen di dalamnya, kemudian produsen transmisi juga akan terpengaruh, yang memproduksi tangki dan filter BBM serta oli, sampai exhaust valve pasti akan terpengaruh," kata Hamdhani, dalam bincang virtual, baru-baru ini.

Pengembangan kendaraan listrik di Indonesia menurut Hamdhani, mau tidak mau membuat anggota GIAMM yang nanti hasil produksinya tidak lagi digunakan untuk membuat komponen baru, dengan nilai investasi yang tidak sedikit.

"Untuk bisa melakukan itu, kami perlu partner yang mumpuni di bidang teknologi kendaraan listrik. Sementara kalau diperhatikan, pabrikan otomotif justru memiliki pabrik baterai sendiri. Buat kami, ini menjadi tantangan," terangnya.

Baca Juga: Indonesia Berpeluang Menjadi Negara Kaya di Era Mobil Listrik

Selain itu, Hamdani mengharapkan transisi menuju kendaraan listrik sebaiknya terlebih dulu dimulai dengan teknologi hybrid ataupun plug-in hybrid.

Menurutnya, dengan terlebih dulu beralih ke hybrid semua bisa jadi lebih siap dibanding harus langsung beralih ke kendaraan listrik.

Ilustrasi IIMS Hybrid 2021 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (15/4/2021).

"Kami lebih memilih transisi menuju elektrikasi itu melalui tahapan hybrid terlebih dahulu. Bukan apa-apa, bukan agar tetap dikuasai satu negara atau apapun. Karena kami ingin punya waktu untuk bisa membangun kompetensi terlebih dahulu," tutup Hamdani.

Komentar