Otomotif / Mobil
Kamis, 03 Maret 2022 | 09:22 WIB
Mobil listrik produksi Tesla Incorporation tengah mengisi daya di stasiun Tesla Supercharger di Redondo Beach, California, 2021. Sebagai ilustrasi [AFP/Patrick T. Fallon].

Suara.com - Sejak pekan silam, tidak lama setelah terjadi invasi Rusia ke Ukraina (24/2/2022), Tesla Incorporation memberikan sebentuk dukungan kepada warga terdampak. Yaitu disediakannya layanan pengisian ulang baterai mobil listrik bagi semua brand, agar pengguna bisa mengungsi tanpa was-was kehabisan daya di tengah perjalanan.

Sebuah langkah konkret, mengingat sejauh ini tercatat ada sekitar 30.000 kendaraan listrik telah terjual di Ukraina.

Sedangkan Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB memperkirakan saat ini ada sekitar 660.000 pengungsi telah meninggalkan Ukraina. Mereka menggunakan berbagai moda transportasi darat, seperti mobil pribadi, mobil tumpangan, termasuk dari penawaran warga Eropa non-Ukraina yang tengah berada di negara itu dan hendak kembali ke negara mereka, serta kereta api.

Stasiun pengisian baterai ulang Tesla Supercharger di Humpolec, Republik Ceko. Sebagai ilustrasi [AFP].

Dikutip dari harian The Independent, Britania Raya, layanan recharging atau pengisian ulang baterai mobil listrik ini diketahui dari surat elektronik Tesla kepada para pemilik mobil buatan Tesla Incorporation.

Bahwa mereka bisa memanfaatkan fasilitas recharging selama ketegangan antara Rusia dan Ukraina masih terjadi.

"Pemilik Tesla yang mengungsi dari Ukraina dapat menggunakan layanan Superchargern secara gratis di empat kota yang berbatasan dengan Polandia, Hongaria, dan Slovakia," demikian isi surat elektronik itu.

Dijelaskan juga, baik kendaraan listrik Tesla maupun non-Tesla dapat menggunakan pengisi daya secara cuma-cuma di Trzebownisko (Polandia), Kosice (Slovakia), Miskolc dan Debrecen (Hongaria).

Sebagai catatan, hingga kekinian, daftar pelaku industri otomotif yang angkat kaki dari bisnis di Rusia sudah semakin memanjang.

Beberapa yang terbaru di antaranya Mitsubishi Motors dengan pernyataan menangguhkan produksi dan penjualan mobilnya di Rusia sebagai bentuk sanksi ekonomi.

Baca Juga: Setelah Brand Mobil Penumpang Mundur dari Rusia, Giliran Produsen Truk Angkat Kaki

Disebutkan pula bahwa kejadian invasi Rusia telah memicu gangguan rantai pasokan.

Dan dalam kapasitas Mitsubishi Heavy Industries, perusahaan ini memiliki proyek gas alam cair atau Liquid Natural Gas (LNG) yang beroperasi di Rusia, dalam proyek Sakhalin II. Rencananya Mitsubishi juga mundur dari sektor ini.

Melansir Automotive News, saat ini Mitsubishi Corporation tercatat memiliki 141 dealer Mitsubishi di Rusia, yang bisa disimak di laman resmi perusahaan.

Load More