- Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menyatakan pasar baterai EV berbasis nikel tumbuh tajam meski baterai LFP sangat populer.
- IBC sangat optimistis nikel tetap dibutuhkan untuk teknologi baterai masa depan seperti sodium ion dan solid state battery.
- IBC bersama Antam dan Zhejiang Huayou menandatangani kerja sama di Jakarta (30/1/2026) untuk ekosistem baterai terintegrasi nasional.
Suara.com - Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif mengatakan ukuran pasar untuk baterai kendaraan listrik (EV) berbasis nikel meningkat tajam sehingga bisnis tersebut masih menjanjikan.
Aditya menyampaikan memang betul saat ini pasar baterai listrik terbagi antara yang berbasis LFP (litium besi fosfat) dengan NMC (nikel mangan kobalt). Banyak analis, lanjutnya, memang memproyeksikan bahwa pangsa pasar untuk baterai EV berbasis nikel tertekan akibat keberadaan baterai EV berbasis litium.
“Tetapi, secara volume, sebetulnya katoda jenis NMC itu permintaannya meningkat dengan sangat tajam,” ujar Aditya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (2/2/2026).
“Kami masih sangat optimistis bahwa kami bisa memasarkan baterai berbasis katoda nikel kami,” lanjut dia.
Terlebih, Aditya melihat untuk teknologi di masa depan, baterai yang akan terkomersialisasi adalah baterai jenis sodium ion battery, di mana dalam skenario tersebut, unsur litiumnya akan diganti oleh natrium agar lebih murah.
“Per hari ini, teknologi yang akan digunakan untuk baterai jenis sodium ion ini, salah satu kandidat kuatnya masih berbasis nikel,” kata Aditya.
Setelah baterai jenis sodium ion battery, Aditya juga mengatakan akan ada solid state battery atau baterai ion litium biasa, namun menggunakan elektrolit padatan. Untuk baterai jenis ini, ia pun mengatakan nikel masih menjadi kandidat utama dalam pengembangan teknologi tersebut.
“Jadi, kami cukup optimistis bahwa ke depan, nikel Indonesia masih tetap akan bisa dipasarkan di pasar global,” katanya.
Pernyataan tersebut merupakan respons Aditya ketika Komisi XII yang membidangi sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) mempertanyakan daya saing baterai EV berbasis nikel di tengah-tengah pasar yang masif menggunakan baterai EV berbasis litium.
Baca Juga: ANTAM dan IBC Gandeng Huayou Cobalt Percepat Hilirisasi Baterai Nasional
Sebelumnya IBC bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam), bersama Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. menegaskan komitmen bersama mempercepat pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia melalui penandatanganan kesepakatan kerangka kerja sama di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Kerja sama itu dinilai sebagai langkah penting dalam mewujudkan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri baterai terintegrasi global.
Dalam kerja sama itu IBC berperan sebagai penghubung dan orkestrator sinergi antara industri dalam negeri dan mitra global, termasuk dalam aspek teknologi, serta tata kelola proyek. Kolaborasi ini juga membuka peluang alih teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional.
Ekosistem baterai terintegrasi yang direncanakan mencakup pengembangan fasilitas baterai untuk ekosistem kendaraan listrik dan memproduksi baterai penyimpanan energi dari PLTS.
Proyek bertajuk Indonesia Grand Package mencakup pengembangan rantai pasok baterai EV secara terintegrasi, mulai dari penambangan hingga produksi baterai. Targetnya proyek ini diproyeksikan menciptakan ribuan lapangan kerja, memperkuat struktur industri nasional, serta memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan agenda transisi energi Indonesia.
Berita Terkait
-
Antam dan IBI Garap Proyek Baterai Bareng Konsorsium China: Nilai Investasi Capai 6 Miliar Dolar AS
-
ANTM Meroket 241 Persen dalam Setahun, Rekor Harga Emas dan Nikel Jadi Motor Utama
-
Bidik Laba Rp 100 M, Emiten IFSH Mau Akuisi Tambang Nikel Tahun Ini
-
Bos Vale Santai Tanggapi Rencana Pemerintah Pangkas Produksi Nikel
-
Harga Jadi Tantangan, PT Vale Catatkan Pendapatan USD 902 Juta
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
Pilihan
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
Terkini
-
Daftar Harga Mobil Listrik BYD April 2026, Mulai Rp199 Jutaan
-
Apakah Motor Listrik Bayar Pajak Tahunan? Cek Besarannya
-
3 Fakta Kenapa Honda BeAT Dicap Motor Pelit Fitur, Strategi atau Efisiensi?
-
Teknologi New Veloz Hybrid yang Perlu Pengguna Pahami
-
5 Skutik Entry-Level Super Irit BBM Terbaru 2026 Banderol Kaki Lima
-
Honda Jazz 2026 Menjelma Jadi Karya Seni Berkat Sentuhan Kreatif Desainer Muda
-
5 Mobil Hybrid Super Irit Bensin Keluaran 2026 yang Harga Tak Bikin Kecewa
-
Dominasi Mobil Jepang Runtuh Dampak Serbuan Kendaraan Listrik Tiongkok di Australia
-
7 Motor Listrik Roda Tiga Tertutup, Bisa Muat Banyak Siap Terjang Panas dan Hujan
-
BBM Subsidi Dibatasi 50 Liter, Cukup Buat Kerja Bolak-Balik Jakarta-Bandung Pakai Mobil Pribadi?