Bisnis / Energi
Senin, 19 Januari 2026 | 19:32 WIB
PT Vale Indonesia Tbk mencatatkan pendapatan sebesar USD 902 juta hingga November 2025. [Dok PT Vale]
Baca 10 detik
  • PT Vale Indonesia mencatat pendapatan USD 902 juta hingga November 2025 meskipun menghadapi tantangan harga nikel yang tidak stabil.
  • Kinerja produksi nikel matte Vale hingga November 2025 melebihi target anggaran, ditandai peningkatan produksi dan penjualan.
  • Vale meminta revisi RKAB karena kuota yang disetujui 30% dari permintaan, demi memastikan pasokan bijih untuk tiga proyek hilirisasi.

Suara.com - Harga nikel yang tidak stabil diakui PT Vale Indonesia Tbk sebagai tantangan yang dihadapi perusahaan sepanjang 2025. Namun demikian, Vale mencatatkan pendapatan sebesar USD 902 juta hingga November 2025.

"Memang tantangannya adalah mengenai harga realisasi, karena realisasi harga nikel sepanjang tahun 2025 ini dibawah dari apa yang kita harapkan," kata Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto saat rapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Senin (19/1/2026).

Meski dihadapkan dengan tantangan harga, Bernardus menyebut Vale tetap mencatatkan tren yang positif.

"Pada variabel-variabel yang bisa kita kontrol seperti produksi dan biaya, PT Valley membukukan kinerja yang sangat baik," ujarnya.

Dari sisi produksi Vale mencatatkan produksi nikel matte sebesar 66.848 ton hingga November 2025 atau tumbuh 3% secara tahunan, dan penjualan nikel matte meningkat 2% menjadi 67.351 ton Ni-Co.

Adapun untuk penjualan bijih nikel saprolit sebesar 1,9 juta wmt yang berasal dari wilayah Pomalaa dan Bahodopi.

Bernardus menyebut angka itu bisa melebihi bujet yang ditetapkan pada 2025, karena data untuk Desember belum dikeluarkan perusahaan.

"Bisa saya sampaikan sambil nanti menunggu audit yang tengah berlangsung, bahwa produksi PT Vale untuk produksi nikel mat itu melebihi budget yang dicanangkan pada tahun 2025. Demikian juga penjualan ore sampai dengan akhir tahun itu juga melebihi budget yang dicanangkan di tahun 2025,” kata Bernardus.

Sementara dari sisi efisiensi, PT Vale mencatat biaya produksi di wilayah operasional Sorowako berada di kisaran US$ 9.000 per ton.

Baca Juga: RKAB 2026 Belum Terbit, Vale Indonesia Stop Operasi Sementara

"Ini termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia di dalam produksi nikel matte," sebutnya.

"Jadi secara kinerja, baik dalam hal produksi, penjualan ore, dan biaya, tiga variabel ini kami bisa memenuhi bahkan melebihi apa yang dicantumkan di dalam budget,” ujar Bernardus.

Ajukan Revisi RKAB

Sebelumnya Bernardus telah meminta dukungan Komisi XII DPR untuk mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Ia mengatakan volume yang diberikan belum sebanding dengan kebutuhan untuk memenuhi komitmen suplai ke proyek hilirisasi yang sedang berjalan di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako.

“Saat ini kami sudah memperoleh persetujuan RKAB. Namun demikian kuota yang diberikan kepada PT Vale sekitar 30 persen dari apa yang kami minta,” kata Bernardus.

Menurut dia, PT Vale perlu memastikan kecukupan bijih untuk memenuhi kewajiban pasokan ke pabrik-pabrik HPAL yang dibangun bersama mitra, termasuk kebutuhan stok awal sebelum operasi.

Load More