- Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan kenaikan signifikan didorong rekor harga emas global melampaui US$5.000 per ons.
- Kinerja positif ANTM juga didukung pemulihan operasional sektor nikel melalui normalisasi RKAB dan rekor volume penjualan.
- Meskipun prospek cerah, analis mengingatkan potensi aksi ambil untung karena valuasi saham saat ini dinilai sudah cukup tinggi.
Suara.com - Pasar keuangan dalam negeri tengah dihebohkan oleh performa impresif PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Emiten pertambangan pelat merah ini menjadi pusat perhatian setelah mencatatkan lonjakan harga saham yang luar biasa.
Meski pada Selasa (27/1/2026) terjadi koreksi teknis ke level Rp4.160, namun secara historis saham ANTM telah menunjukkan reli panjang dari level Rp4.000 dalam sepekan terakhir, bahkan meroket hingga 241,22% jika ditarik dalam periode satu tahun belakang.
Lantas, apa yang membuat saham ANTM begitu perkasa di lantai bursa? Berikut adalah analisis mendalam mengenai faktor-faktor pendorong utamanya.
Emas Menggila
Pemicu paling signifikan tentu saja berasal dari pasar komoditas global. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, harga emas dunia menembus level psikologis US$5.000 per troy ons.
Sebagai emiten yang memiliki lini bisnis emas dari hulu (tambang) hingga hilir (penjualan ritel Logam Mulia), ANTM mendapatkan keuntungan ganda.
Kenaikan harga emas dunia langsung mengerek harga jual emas batangan Antam di dalam negeri menjadi Rp2.917.000 per gram.
Investor di pasar modal melihat ini sebagai potensi lonjakan laba bersih yang besar bagi perusahaan, mengingat biaya produksi relatif stabil sementara harga jual melambung tinggi.
Baca Juga: Kenaikan Harga Emas yang Bikin Cemas
Status Safe Haven di Tengah Ketidakpastian Global
Kepala Riset NH Korindo Sekuritas, Nico Omer Jonckheere, menilai penguatan ini dipicu oleh tingginya permintaan terhadap aset aman (safe haven).
Ketegangan geopolitik yang melibatkan sengketa Greenland hingga ketidakpastian kebijakan Presiden AS Donald Trump memaksa investor global mengalihkan modal mereka ke emas dan saham-saham berbasis emas seperti ANTM.
Selain emas, diversifikasi portofolio ANTM di sektor nikel menjadi penyokong fundamental yang kuat. Setelah sempat terkendala regulasi di tahun 2024, sektor ini mulai menunjukkan pemulihan signifikan:
Normalisasi RKAB: Persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang lebih lancar di tahun 2025 memulihkan volume produksi.
Rekor Penjualan: ANTM mencetak volume penjualan bijih nikel tertinggi pada kuartal II-2025 mencapai 8,20 juta wet metric ton (WMT).
Target Produksi Ambisius: Perusahaan menargetkan produksi nikel sebesar 21 juta ton pada tahun 2025, didukung oleh harga nikel di LME yang stabil di level tinggi.
Peluang vs Risiko Ambil Untung
Meskipun prospek jangka panjang terlihat cerah—terutama dengan prediksi analis Ross Norman bahwa emas bisa menyentuh US$6.400 per ons tahun ini—analis mengingatkan adanya risiko jangka pendek.
Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas menilai bahwa secara relatif, valuasi saham emiten emas saat ini sudah cukup tinggi. Hal ini membuka peluang terjadinya aksi ambil untung (profit taking) oleh para investor besar.
Oleh karena itu, investor ritel disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas pasar dan melakukan evaluasi ulang terhadap titik masuk (entry point) mereka.
Secara keseluruhan, kombinasi antara sentimen safe haven emas, pemulihan operasional sektor nikel, serta prospek dividen yang stabil menjadikan ANTM sebagai pilihan menarik di tengah badai ekonomi global tahun 2026.
DISCLAIMER: Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga yang tinggi. Penguatan harga saham ANTM di masa lalu tidak menjamin kinerja yang sama di masa depan. Artikel ini adalah informasi berita bisnis dan bukan merupakan instruksi jual atau beli. Selalu konsultasikan rencana investasi Anda dengan penasihat profesional.
Berita Terkait
-
Catat Waktunya! Emas Antam Bisa Tembus Rp 3 Juta/Gram Pekan Ini
-
ANTM Mengamuk! Saham Aneka Tambang Tembus Rekor Baru di Rp4.750
-
Daftar Saham di BEI yang Meroket Usai Harga Emas Dunia Tembus 5.000 Dolar
-
Harga Emas Naik 80 Persen dalam Satu Tahun, Ini Penyebabnya
-
Emas Antam Terus Pecah Rekor, Harganya Tembus Rp 2,9 Juta/Gram
Terpopuler
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 4 Pilihan HP OPPO 5G Terbaik 2026 dengan RAM Besar dan Kamera Berkualitas
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- Bojan Hodak Beberkan Posisi Pemain Baru Persib Bandung
Pilihan
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
-
H-135 Kick Off Piala Dunia 2026, Dua Negara Ini Harus Tempuh Perjalanan 15.000 KM
-
5 Rekomendasi HP RAM 12 GB Paling Murah, Cocok buat Gaming dan Multitasking
-
Kenaikan Harga Emas yang Bikin Cemas
-
Sah! Komisi XI DPR Pilih Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Serapan KIPK 2025 Jeblok, Menperin Janji Bereskan Kendala Biar Padat Karya Jalan di 2026
-
Kementerian PU Mulai Tambal Lubang Jalan Nasional di Aceh Tamiang Pascabencana
-
Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta, Pelindo dan Kemenhub Kembangkan Kawasan Pesisir serta Pelabuhan Laut
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
-
Distribusi Pulih, Harga Pangan di Wilayah Bencana Aceh-Sumut-Sumbar Mulai Melandai
-
BUMI vs CDIA, Saham Mana yang Lebih Siap Masuk MSCI Standard Index?
-
Penyebab Harga Minyak Dunia Melemah Hari Ini
-
Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI, Apa yang Terjadi saat Independensi Bank Sentral Hilang?
-
Jangan Salah Pilih! Ini 6 Perbedaan Utama Paylater dan Kartu Kredit
-
Harapan Purbaya ke Ponakan Prabowo Setelah Resmi Masuk BI, Bantah Fiskal Kuasai Moneter