- Rencana impor 105.000 unit *pick-up* CBU India berisiko mengganggu stabilitas industri komponen domestik yang utilisasinya rendah.
- Impor masif kendaraan utuh diprediksi akan mengurangi permintaan komponen pendukung domestik hingga sepuluh persen pada tahun 2026.
- Skema IKD dinilai lebih mendukung industri komponen dalam negeri daripada impor CBU karena mempertahankan perakitan lokal.
Suara.com - Rencana impor 105.000 unit kendaraan pick-up asal India dalam bentuk utuh atau kendaraan CBU perlu dianalisis secara mendalam karena berisiko mengganggu stabilitas industri komponen domestik. Kebijakan ini dinilai akan berdampak langsung pada rantai pasok manufaktur nasional yang saat ini sebenarnya masih memiliki ruang kapasitas produksi sangat melimpah.
Struktur industri pendukung otomotif nasional saat ini menunjukkan angka yang belum optimal dalam hal utilisasi. Sebagai contoh pada sektor hulu, kapasitas terpasang bahan baku nasional mencapai 2,9 juta ton per tahun namun tingkat utilisasinya baru menyentuh 66,9 persen pada 2025. Kondisi serupa terjadi di sektor hilir yang memproduksi komponen spesifik bagi kendaraan roda empat dengan tingkat utilisasi yang baru mencapai 42 persen.
Masuknya kendaraan impor secara utuh sebanyak 105.000 unit diprediksi akan memangkas permintaan komponen domestik secara signifikan. Dampaknya permintaan terhadap komponen pendukung utama bisa berkurang hingga 10 persen pada tahun 2026.
"Padahal industri komponen dalam negeri telah memiliki sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN dengan nilai rata-rata di atas 50 persen yang mencerminkan penguatan struktur industri nasional," ujar Yustinus H. Gunawan, Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman, Jumat (20/2/2026).
Mutu komponen buatan Indonesia juga telah diakui secara global yang dibuktikan dengan keberhasilan ekspor kendaraan dalam bentuk CBU maupun suku cadang ke berbagai negara. Oleh karena itu rencana impor dalam jumlah masif ini dianggap tidak sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong nilai tambah domestik.
Jika impor memang tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasar tertentu, skema yang dianggap lebih mendukung industri dalam negeri adalah Incomplete Knock Down atau IKD. Melalui skema ini impor hanya dilakukan untuk komponen yang memang belum bisa diproduksi di Indonesia sementara aktivitas perakitan dan penggunaan komponen lokal tetap dipertahankan.
Kebijakan impor yang dirancang secara selektif dan berbasis pada kapasitas manufaktur lokal akan lebih efektif dalam menjaga keberlangsungan industri nasional. Langkah ini jauh lebih bijak guna mendukung agenda industrialisasi berkelanjutan sekaligus melindungi investasi yang telah ditanamkan oleh produsen komponen di dalam negeri.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Mitos Baterai Mobil Listrik Cepat Rusak Mulai Terpatahkan Data Lapangan
-
Mobil Keluaran 90-an yang Direkomendasikan Pakar: Desain Timeless, Bertenaga, Lebih Murah dari Motor
-
Bedah Data: Penjualan Mobil Listrik Polytron 2026 Kalahkan Brand Tenar dari Jepang dan Jerman
-
Sistem Infotainment Mobil Modern Dinilai Mengancam Keselamatan Berkendara
-
Bukan Indonesia, Negara Ini yang Jadi Tempat Kelahiran Yamaha R2?
-
Ancaman Nyata BYD Paksa Toyota Ubah Strategi Distribusi Kendaraan untuk Pasar Australia
-
Studi: Gen Z Tak Bisa Ganti Ban Mobil Senidiri saat Ban Bocor
-
Ada 9 Varian: Simak Perbedaan Harga dan Fitur Yamaha Aerox Biar Nggak Bingung
-
Touring Seru di Tanah Rencong Komunitas Motor Jelajahi Destinasi Ikonik Sambil Edukasi Mesin
-
Update Klasemen Moto3 Junior M Kiandra Ramadhipa Terpaut Sembilan Poin dari Puncak