- Rektor Paramadina Didik J Rachbini mengkritik rencana PT Agrinas Pangan Nusantara mengimpor 105.000 pikap India.
- Impor pikap India secara masif dikhawatirkan menekan neraca perdagangan dan melemahkan strategi ekspor otomotif Indonesia.
- Kebijakan ini dianggap inkonsisten dengan upaya pemerintah memperkuat industrialisasi dan basis produksi regional.
Suara.com - Ekonom senior sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini mengkritisi rencana perusahaan negara, PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) yang akan mengimpor 105.000 pikap dari India untuk Koperasi Desa Merah Putih.
Didik menilai rencana impor pikap India tersebut mencerminkan permasalahan kepemimpinan ekonomi dan industrialisasi yang tidak sinkron karena dapat melemahkan arah kebijakan industri nasional.
"Di tengah implementasi kebijakan industrialisasi dan, kebijakan jalan pintas ini berpotensi menjadi langkah deindustrialisasi yang terselubung. Jika terus dilakukan, maka ini menjadi kebijakan instan jangka pendek terlihat praktis, tetapi dalam jangka panjang melemahkan struktur industri nasional," kata Didik lewat keterangannya kepada Suara.com yang dikutip pada Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, rencana tersebut dapat menimbulkan masalah makroekonomi, karena impor masif akan menekan neraca perdagangan dan sekaligus akan membuat neraca pembayaran tertekan terus negatif. Dia memamaparkan Indonesia sudah mengekspor otomotif ke manca negara dalam jumlah besar atau sekitar lebih setengah juta unit.
"Kebijakan ini melemahkan strategi ekspor otomotif Indonesia. Negara yang tengah berupaya memperkuat posisi sebagai basis produksi otomotif regional justru berisiko berubah menjadi pasar bagi produsen luar negeri," ujarnya.
Di samping itu, juga menjadi preseden buruk karena dianggap mengorbankan industri domestik demi solusi jangka pendek, yang pada gilirannya berisiko melemahkan fondasi transformasi ekonomi nasional. Didik menyebut industri otomotif Indonesia telah mapan sebagai basis produksi regional dan eksportir global selama dua dekade terakhir.
Banjirnya barang impor dikhawatirkan akan memangkas tingkat utilisasi pabrik, menekan volume produksi, serta merusak daya saing yang selama ini telah dibangun melalui investasi besar.
Dia menilai kebijakan ini sebagai langkah yang keliru sekaligus bentuk ketidakkonsistenan strategi industrialisasi pemerintah. Di satu sisi, pemerintah berupaya mendorong TKDN, investasi manufaktur, dan penguatan rantai pasok, namun di sisi lain justru melemahkannya dengan membuka impor kendaraan secara masif.
"Inkonsistensi kebijakan seperti ini menciptakan ketidakpastian bagi investor dalam dan luar negeri, serta berisiko merusak kredibilitas kebijakan industri jangka panjang," ujarnya.
Baca Juga: Agrinas Impor Pikap dari India, Resep Jitu Matikan Industri Otomotif Indonesia?
Didik pun menegaskan pemerintah harus membatalkan rencana pembelian 105.000 pikap tersebut. Dia menekankan perlunya arah kebijakan yang konsisten dan strategis dengan menjadikan prioritas produksi domestik melalui pengadaan pemerintah.
"Dana publik, dan pajak harus digunakan untuk memperkuat industri nasional. Pemerintah mendorong peningkatan investasi kendaraan niaga lokal dan membuat kebijakan industri yang konsisten dengan agenda hilirisasi," tutup dia.
Berita Terkait
-
Impor Pikap India Lebih Murah, Agrinas Klaim Efisiensi Rp 46,5 Triliun
-
Bos Agrinas Pangan Siap Menghadap Dasco, Terangkan Maksud Impor Pikap
-
Bos Agrinas Pangan Pastikan Belum Ada Keputusan Tunda Impor Pikap dari India
-
Buruh: 10.000 Pekerja Diserap Jika PT Agrinas Beli Pikap di Dalam Negeri
-
Bos Agrinas Patuhi Saran Dasco, Sepakat Tunda Impor Pikap India
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
Terkini
-
Yamaha MX King Terbaru Hadir di Vietnam, Apa Bedanya Versi Indonesia?
-
Mirip Indonesia, Begini Kebijakan Terbaru China untuk Subsidi Mobil Hybrid
-
Nggak Antre! Begini Cara Praktis Cetak Bukti Bayar STNK Sendiri di Rumah setelah Bayar Online 2026
-
Waspada! Inilah Faktor yang Bikin Tombol di Dashboard Mobil Cepat Rusak
-
Spesifikasi Mitsubishi Xforce Hybrid: Mending Mana Lawan HR-V HEV dan Yaris Cross HEV?
-
Mitsubishi Siapkan Robot Perakit Mobil, Alasannya Tak Tertebak
-
Berapa Harga Sepeda Listrik? Ini 5 Rekomendasi yang Tangguh, Murah dan Awet
-
Torsi Honda New Vario Evo 160 Naik, Kok Suspensi Belakang Dibiarkan Keras?
-
Dinamika Penjualan Kendaraan Batam Menggeliat Lewat Pameran Otomotif
-
5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan