Suara.com - Di tengah isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sempat membuat masyarakat was-was, pemerintah akhirnya memastikan bahwa harga BBM tidak mengalami perubahan per April 2026, baik untuk jenis subsidi maupun nonsubsidi.
Keputusan ini tentu menjadi angin segar bagi masyarakat yang sebelumnya sempat khawatir akan adanya penyesuaian harga di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.
Banyak orang belum menyadari bahwa harga BBM, khususnya Pertalite, sebenarnya tidak mencerminkan harga aslinya. Pemerintah masih menahan harga agar tetap terjangkau melalui skema subsidi.
Lalu, sebenarnya berapa harga pertalite jika tidak disubsidi? Hal ini penting untuk dipahami, apalagi jika melihat tren kenaikan BBM dari waktu ke waktu yang selalu dipengaruhi kondisi global dan kebijakan pemerintah. Berikut informasi lengkapnya.
Harga Pertalite Jika Tidak Disubsidi
Banyak masyarakat belum menyadari bahwa harga Pertalite yang dibeli setiap hari sebenarnya sudah mendapat bantuan dari negara.
Pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menanggung sebagian biaya agar harga tetap terjangkau.
Harga keekonomian Pertalite sebenarnya berada di kisaran Rp11.700 per liter. Namun, masyarakat hanya membayar Rp10.000 per liter. Selisih sekitar Rp1.700 per liter inilah yang ditanggung pemerintah sebagai subsidi.
Jika subsidi tersebut tidak diberikan, maka harga pertalite bisa langsung naik mengikuti harga pasar. Artinya, masyarakat harus membayar lebih mahal dari harga saat ini, bahkan berpotensi terus berubah sesuai kondisi global.
Sejarah Kenaikan BBM di Indonesia dari Masa ke Masa
1. Era Soekarno
Baca Juga: BBM Batal Naik per 1 April 2026, Antrean SPBU Kembali Normal
Pada era Presiden Soekarno, harga BBM sudah mulai mengalami penyesuaian akibat tekanan ekonomi dan inflasi tinggi. Pada November 1965, harga premium berada di Rp 0,3 per liter dan solar Rp0,2. Hanya dalam waktu singkat, Januari 1966 harga premium melonjak menjadi Rp1 per liter.
Namun, di akhir Januari 1966, pemerintah kembali menyesuaikan harga menjadi Rp0,5 per liter untuk premium, sementara solar justru naik ke Rp0,4. Perubahan cepat ini mencerminkan kondisi ekonomi yang belum stabil saat itu.
2. Era Soeharto
Di masa Orde Baru, kenaikan harga BBM dilakukan bertahap namun dalam jangka panjang cukup signifikan. Tahun 1980, harga premium berada di Rp 150 per liter dan solar Rp52,5. Pada 1993, harga premium melonjak menjadi Rp700 dan solar Rp380.
Puncaknya terjadi pada 1998 saat krisis ekonomi, di mana harga premium mencapai Rp1.200 per liter dan solar Rp600. Secara keseluruhan, kenaikan di era ini mencapai sekitar 7 kali lipat.
3. Era B. J. Habibie
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Hyundai Pastikan IONIQ 3 Siap Melantai di GIIAS 2026
-
Dulu Sungkan Merger Kini Mau Jadi Partner, Honda dan Nissan Siap Kembangkan Kendaraan 'Next Gen'
-
Akun Mazda Indonesia Tertangkap Promosikan Crypto Casino, Kok Bisa ?
-
Kejutan! Ternyata Ini Mobil Terlaris Suzuki 2026, Bukan Ertiga atau Fronx
-
Teknologi REEV yang Banyak Ditawarkan pada Mobil China Sama dengan PHEV? Begini Penjelasannya...
-
Ini Mobil Toyota yang Paling Jarang Dibeli Sepanjang 2026, Beda Kelas
-
Rahasia Keunggulan Teknologi Global GAC AION di Pasar Mobil Listrik Indonesia
-
Honda Terlalu Mengandalkan Brio, 2026 Merosot
-
Bedah Data: Intip Kontrasnya Karakter Peminat Toyota Avanza vs Mitsubishi Xpander
-
GAIKINDO Soroti Ketimpangan Stimulus Industri Otomotif dari Pemerintah