Otomotif / Mobil
Sabtu, 11 April 2026 | 00:36 WIB
Industri kendaraan niaga Indonesia dikhawatirkan akan segera melakukan PHK akibat penurunan penjualan di tengah banjir impor truk China yang mendapat perlakukan khusus. [ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/bar]
Baca 10 detik
  • Industri kendaraan niaga Indonesia terancam melakukan PHK massal akibat lonjakan impor truk asal China yang tidak memenuhi regulasi.
  • Data Gaikindo menunjukkan utilisasi pabrik domestik turun di bawah 50 persen karena kalah bersaing dengan truk impor murah.
  • Kementerian Perindustrian mengusulkan pembatasan impor melalui regulasi TPT serta penerapan pajak PPnBM lebih tinggi bagi truk impor China.

Suara.com - Risiko pemutusan hubungan kerja atau PHK di industri kendaraan niaga Indonesia akan segera terjadi jika pemerintah tidak segera membatasi impor truk China ke Indonesia. Puluhan ribu truk China masuk ke Indonesia dinilai lewat proses yang tidak adil dan merusak persaingan di pasar kendaraan komersial.

Direktur Sales dan Pemasaran PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), perusahaan pemegang merek kendaraan niaga Mitsubishi Fuso di Indonesia, mengatakan jika pemerintah tidak segera bertindak maka gelombang PHK di industri kendaraan niaga akan segera terjadi.

"Selama enggak ada action atau perubahan regulasi untuk mengatasi situasi ini, mungkin akan mempercepat situasi (PHK, Red) ini," kata Aji di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Ia menjelaskan truk-truk China yang diimpor ke Indonesia secara utuh banyak yang tidak mengikuti aturan pemerintah. Padahal kendaraan niaga yang diproduksi di Indonesia mematuhi deretan aturan yang dibuat pemerintah baik dari segi administrasi, pajak, emisi hingga keamanan.

"Akhir-akhir ini banyak mobil yang datang ke Indonesia, memenuhi pasar Indonesia, tapi standarnya berbeda dengan regulasi pemerintah," terang Aji.

Ia mencontohkan truk-truk tambang asal China yang dipamerkan dan dijual dalam berbagai pameran pertambangan di Tanah Air. Kendaraan-kendaraan tersebut, kata Aji, banyak yang belum menggunakan standar emisi Euro 4. Padahal truk buatan dalam negeri diwajibkan pemerintah untuk menerapkan standar emisi ramah lingkungan tersebut.

Bagi konsumen, mesin dengan standar emisi Euro 2 dan 3 itu menguntungkan karena bisa menggunakan bahan bakar berkualitas rendah termasuk solar yang disubsidi pemerintah. Selain itu harga truknya lebih murah karena menggunakan teknologi lawas.

Sementara truk buatan dalam negeri yang sudah menggunakan standar Euro 4 lebih mahal harganya karena menggunakan teknologi baru dan harus mengonsumsi BBM diesel yang lebih berkualitas.

"Alhasil kita ditinggal konsumen. Kalau ditinggalin konsumen, maka pabrik-pabrik, tenaga kerja, vendor-vendor pemasok di dalam negeri serta karyawan mereka akan terdampak," jelas Aji.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Ganggu Ekspor Mobil China, Dampaknya Merembet ke Eropa

Tidak berhenti di sana, yang juga akan terdampak adalah dealer-dealer kendaraan niaga juga terancam kehilangan pekerjaan karena persaingan yang tidak sehat dengan truk-truk China.

Penjualan kendaraan niaga di Indonesia terus turun di periode 2022 - 2025. Tapi di saat yang sama impor truk utuh dari China terus naik hingga lebih dari dua kali lipat. [Suara.com/Liberty Jemadu]

Impor Truk China Melonjak, Penjualan Turun

Sebelumnya Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo pada Kamis (9/4/2026) telah membeberkan data penjualan kendaraan niaga di Indonesia selama 2022 - 2025. Dari data itu terlihat adanya penurunan penjualan truk dan bus di Indonesia. Ironisnya di saat yang sama impor dari China naik dua kali lipat.

Data yang dipaparkan Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara itu menunjukkan di tahun 2022 penjualan kendaraan niaga berjumlah sekitar 105.300 unit dan 12 persen di antaranya impor utuh dari China. Pada 2025 penjualan kendaraan niaga tinggal 88.400 unit tapi kontribusi impor CBU dari China naik lebih dari dua kali lipat mencapai 27 persen.

Pukulan telak terhadap industri kendaraan niaga dalam negeri terjadi di segmen medium dan heavy duty truck, dengan bobot di atas 20 ton.

Pada 2022 penjualan di segmen ini mencapai hampir 31.000 unit dengan kontribusi impor China sekitar 5.880 unit. Tapi pada 2025 kontribusi impor CBU China di segmen ini naik lebih dari dua kali lipat menjadi 14.809 unit dari total penjualan yang hanya sekitar 30.000 unit.

Load More