Otomotif / Mobil
Kamis, 23 April 2026 | 18:45 WIB
Ilustrasi Mobil Listrik Sedang Melakukan Pengisian Daya. (Freepik)
Baca 10 detik
  • CEO Degree Synergy International melaporkan lonjakan drastis jumlah model mobil listrik di Indonesia hingga Maret 2026.
  • Harga mobil listrik yang semakin terjangkau mulai menyaingi pangsa pasar kendaraan berbahan bakar bensin di Indonesia.
  • Andrea Suhendra menyarankan pemberian insentif tambahan bagi kendaraan PHEV untuk mendukung masa transisi energi bagi konsumen.

Suara.com - Pasar otomotif nasional kini mengalami pergeseran besar seiring dengan semakin banyaknya pilihan mobil listrik murni atau BEV yang masuk ke Indonesia. Andrea Suhendra selaku CEO Degree Synergy International mengungkapkan bahwa kehadiran model baru menjadi salah satu faktor utama yang mendongkrak popularitas kendaraan ramah lingkungan tersebut.

Berdasarkan data terbaru jumlah model BEV di tanah air kini mencapai 74 unit yang berarti naik tajam dibandingkan tahun 2021 yang hanya tersedia 11 model. Tidak hanya varian murni segmen Plug-in Hybrid Electric Vehicle atau PHEV juga menunjukkan lonjakan signifikan dari hanya 42 unit pada Maret 2025 menjadi 1.521 unit pada Maret 2026.

Salah satu pemicu utama minat masyarakat adalah selisih harga jual yang semakin sempit dengan mobil bermesin konvensional atau ICE. Jika pada tahun 2022 harga mobil listrik rata-rata masih berada di atas Rp500 juta saat ini sudah banyak pilihan di angka Rp300 juta bahkan di bawah itu. Kondisi ini mulai menggerus pangsa pasar SUV dan MPV berbahan bakar bensin karena harga yang semakin kompetitif.

Andrea juga menyoroti kenaikan harga BBM terutama solar yang membuat konsumen melirik mobil listrik karena memiliki biaya kepemilikan yang jauh lebih murah. Meskipun terdapat perubahan skema pajak daerah ia memprediksi minat masyarakat tidak akan luntur karena efisiensi energi tetap menjadi daya tarik utama bagi konsumen di kota besar.

“Sebaiknya pemda memberlakukan tarif pajak progresif. Contohnya, BEV di atas Rp500 juta dikenakan tarif lebih tinggi, sedangkan di bawah itu sebaiknya rendah,” kata Andrea Suhendra, di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Terkait transisi energi Andrea memberikan dukungan agar kendaraan PHEV diberikan tambahan insentif. Teknologi ini dianggap sangat krusial sebagai jembatan bagi konsumen yang belum siap beralih sepenuhnya ke mobil listrik murni karena faktor infrastruktur pengisian daya serta jarak tempuh.

“PHEV layak diberi stimulus tambahan, tetapi bersyarat, karena bisa menjadi jembatan transisi untuk konsumen yang belum sepenuhnya siap ke BEV, misalnya karena isu charging infrastructure, jarak tempuh, atau kebiasaan berkendara,” pungkas Andrea Suhendra.

Load More