- Pindah bahan bakar ke Biosolar memicu masalah teknis serius pada injektor mesin commonrail.
- Kandungan sulfur Biosolar yang mencapai 2.500 ppm mempercepat penyumbatan lubang injektor mobil Anda.
- Performa mesin menurun drastis karena cetane Biosolar hanya 48, lebih rendah dari Pertamina Dex.
Suara.com - Tingginya harga jual Dexlite kerap membuat pemilik mobil diesel tergoda beralih menggunakan bahan bakar Biosolar. Padahal, keputusan turun spesifikasi bahan bakar ini menyimpan risiko teknis yang tidak bisa diremehkan.
Harga Pertamina Dex mencapai Rp 23.900 dan Dexlite Rp 23.600 per liter memang cukup menguras kantong.
Namun, menjadikan bahan bakar subsidi sebagai pelarian justru mengintai dompet Anda dengan biaya perbaikan yang jauh lebih besar.
Alih-alih untung, komponen vital pada ruang bakar akan menjadi korban utama dari jebloknya kualitas BBM.
Bengkel spesialis diesel sering kali menemukan kerusakan fatal akibat kebiasaan buruk para pemilik mobil ini.
Ancaman Nyata Teknologi Commonrail
Seperti dilansir dari Astra Daihatsu, mobil diesel keluaran terbaru umumnya sudah mengadopsi teknologi modern bernama commonrail.
Sistem canggih ini sangat sensitif terhadap kualitas bahan bakar yang disedot masuk ke ruang bakar.
Jika Anda memaksa memakai Biosolar, dampaknya akan langsung menyerang area injektor. Lubang injektor yang sangat kecil akan mudah tersumbat oleh kotoran akibat kualitas bahan bakar menurun.
Baca Juga: Jangan Sampai Menyesal! Ini 9 Cara Hindari Mobil Mogok di Tengah Rel Kereta Api
Sebagai perbandingan, kadar sulfur Biosolar tercatat sangat tinggi karena menyentuh angka 2.500 ppm. Kondisi ini lama-kelamaan akan menggerogoti dan merusak kesehatan injektor secara langsung.
Beda Jauh Kandungan Cetane
Selain masalah sulfur, tenaga mesin juga dipastikan ikut terkoreksi alias menjadi lebih loyo. Hal ini terjadi karena kadar cetane Biosolar hanya 48, berbanding jauh dengan Pertamina Dex yang mencapai 51.
Perbedaan nilai cetane ini akan langsung memperburuk efisiensi pembakaran di dalam mesin kendaraan. Tenaga yang dihasilkan otomatis menurun drastis dan tarikan mobil terasa jauh lebih berat.
Endapan Tangki dan Filter Kotor
Masalah teknis ini ternyata tidak hanya berhenti sampai di area injektor saja. Penggunaan Biosolar rentan memicu penumpukan endapan kotoran di dalam tangki bahan bakar jika mobil jarang digunakan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- Kasat Narkoba Tangsel Ditangkap! Diduga Edarkan Narkoba Bersama Enam Anak Buah
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
Pilihan
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
Ledakan Dahsyat Guncang Mall AEON Dua Orang Tewas, Diduga Akibat Kebocoran Gas
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
Terkini
-
Resmikan Pusat Layanan BGN, Sudaryono Ogah Terima Aduan Secara Diam-diam
-
Berbekal Teknologi i-DM Jetour T2 Kini Mencoba Peruntungan di Segmen SUV Hybrid Premium Indonesia
-
Pendiri Telegram Pavel Durov Masuk Daftar Buronan Terorisme Rusia
-
4 Gaya OOTD Y2K Chic ala Juun Hearts2Hearts, Manis tapi Tetap Edgy!
-
Uangnya Kelihatan Baru, Eh Ternyata Palsu! Penjual Jamu di Blitar Jadi Korban
-
Nikmati Weekday Brunch All You Can Eat Mulai Rp150.000 dengan City View di Manhattan Hotel Jakarta
-
Bulog Bangun Pabrik Raksasa Pengolah Beras Kapasitas 120 Ton di Lampung Timur
-
Review Frankenstein: Kisah Tragis dan Ambisi Manusia yang Melawan Kematian
-
Romantisnya Kebablasan, Pasutri Diciduk Polisi Usai Jadi Pengedar Sabu di Lamongan
-
Gelapkan Dana Siswa Ratusan Juta, Kepala SMA di Kepri Ditangkap