Otomotif / Mobil
Jum'at, 22 Mei 2026 | 17:53 WIB
Presiden Direktur Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif IBC) mengatakan pihaknya fokus mengembangkan paten teknologi baterai berbasis nikel untuk memenuhi kebutuhan pasar kendaraan listrik domestik. [Suara.com/Liberty Jemadu]
Baca 10 detik
  • Indonesia Battery Corporation (IBC) fokus mengembangkan paten teknologi baterai berbasis nikel untuk memenuhi kebutuhan pasar kendaraan listrik domestik.
  • IBC berkolaborasi dengan BRIN serta universitas lokal guna meningkatkan inovasi paten yang produktif dan bernilai ekonomi tinggi.
  • Perusahaan optimistis riset dalam negeri mampu mengejar capaian teknologi baterai China demi menghasilkan produk yang lebih terjangkau.

Suara.com - Indonesia Battery Corporation (IBC) akan fokus pada riset dan pengembangan sehingga para penelitinya bisa menghasilkan paten-paten teknologi yang terkait baterai yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pasar kendaraan listrik di Tanah Air.

Presiden Direktur IBC Aditya Farhan Arif di Jakarta pada awal pekan ini mengatakan pihaknya bahkan optimistis mampu mengejar riset serta capaian paten teknologi baterai China, negeri yang kini menjadi kiblat pengembangan baterai.

"Kalau cuma mengejar angka (paten), saya optimis banget kita bisa mengejar," kata Adit.

Meski demikian ia mengatakan bahwa yang didorong oleh IBC adalah productive patent, temuan atau inovasi baru yang bisa diwujudukan menjadi produk yang dipasarkan secara luas ke pasar.

"Yang didorong di Indonesia adalah productive patent. Dari 10.000 paten, berapa yang produktif," terang Adit.

Ia bahkan mengatakan IBC sudah memiliki paten di bidang baterai sendiri dan pada tahun ini jumlah paten tersebut akan bertambah. Meski demikian, Adit enggan mengungkap berapa paten yang sudah dimiliki dan dikembangkan tahun ini.

Adit menjelaskan IBC menggandeng para peneliti dari kampus Indonesia serta Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN untuk mengembangkan baterai di Tanah Air. IBC juga mengembangkan talenta-talenta di universitas Tanah Air untuk berkiprah di industri baterai.

Lebih lanjut Adit mengatakan riset dan pengembangan yang menjadi fokus IBC adalah baterai yang sesuai dengan keunggulan sumber daya Indonesia dalam hal ini nikel dan konteks kebutuhan di Indonesia.

Contohnya adalah mengembangkan baterai kendaraan listrik dari nikel yang cocok dengan sumber daya, medan, iklim dan daya beli konsumen mobil di Tanah Air.

Baca Juga: Bos IBC Sebut Permintaan Nikel Terus Meningkat di Tengah Anjloknya Harga

"Kita ingin mengembangkan baterai nikel yang cocok dengan kebutuhan orang Indonesia," ujar Adit.

Karenanya, lanjut Adit, beberapa paten yang sedang dikerjakan oleh IBC lebih pro nikel - sebagai sumber mineral yang dikuasai oleh Indonesia - dan dikembangkan menjadi baterai yang lebih ekonomis.

"Jadi bagaimana caranya kita tetap pakai nikel, tapi karena daya beli orang Indonesia untuk mobil listrik di kisaran Rp400 jutaan, kita bisa menghasilkan mobil listrik dengan harga yang lebih murah," urai Adit.

"Intinya, bagaimana nikel tetap bisa digunakan dan sesuai kebutuhan serta kemampuan orang Indonesia," tegas dia.

Load More