- Indonesia Battery Corporation (IBC) fokus mengembangkan paten teknologi baterai berbasis nikel untuk memenuhi kebutuhan pasar kendaraan listrik domestik.
- IBC berkolaborasi dengan BRIN serta universitas lokal guna meningkatkan inovasi paten yang produktif dan bernilai ekonomi tinggi.
- Perusahaan optimistis riset dalam negeri mampu mengejar capaian teknologi baterai China demi menghasilkan produk yang lebih terjangkau.
Suara.com - Indonesia Battery Corporation (IBC) akan fokus pada riset dan pengembangan sehingga para penelitinya bisa menghasilkan paten-paten teknologi yang terkait baterai yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pasar kendaraan listrik di Tanah Air.
Presiden Direktur IBC Aditya Farhan Arif di Jakarta pada awal pekan ini mengatakan pihaknya bahkan optimistis mampu mengejar riset serta capaian paten teknologi baterai China, negeri yang kini menjadi kiblat pengembangan baterai.
"Kalau cuma mengejar angka (paten), saya optimis banget kita bisa mengejar," kata Adit.
Meski demikian ia mengatakan bahwa yang didorong oleh IBC adalah productive patent, temuan atau inovasi baru yang bisa diwujudukan menjadi produk yang dipasarkan secara luas ke pasar.
"Yang didorong di Indonesia adalah productive patent. Dari 10.000 paten, berapa yang produktif," terang Adit.
Ia bahkan mengatakan IBC sudah memiliki paten di bidang baterai sendiri dan pada tahun ini jumlah paten tersebut akan bertambah. Meski demikian, Adit enggan mengungkap berapa paten yang sudah dimiliki dan dikembangkan tahun ini.
Adit menjelaskan IBC menggandeng para peneliti dari kampus Indonesia serta Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN untuk mengembangkan baterai di Tanah Air. IBC juga mengembangkan talenta-talenta di universitas Tanah Air untuk berkiprah di industri baterai.
Lebih lanjut Adit mengatakan riset dan pengembangan yang menjadi fokus IBC adalah baterai yang sesuai dengan keunggulan sumber daya Indonesia dalam hal ini nikel dan konteks kebutuhan di Indonesia.
Contohnya adalah mengembangkan baterai kendaraan listrik dari nikel yang cocok dengan sumber daya, medan, iklim dan daya beli konsumen mobil di Tanah Air.
Baca Juga: Bos IBC Sebut Permintaan Nikel Terus Meningkat di Tengah Anjloknya Harga
"Kita ingin mengembangkan baterai nikel yang cocok dengan kebutuhan orang Indonesia," ujar Adit.
Karenanya, lanjut Adit, beberapa paten yang sedang dikerjakan oleh IBC lebih pro nikel - sebagai sumber mineral yang dikuasai oleh Indonesia - dan dikembangkan menjadi baterai yang lebih ekonomis.
"Jadi bagaimana caranya kita tetap pakai nikel, tapi karena daya beli orang Indonesia untuk mobil listrik di kisaran Rp400 jutaan, kita bisa menghasilkan mobil listrik dengan harga yang lebih murah," urai Adit.
"Intinya, bagaimana nikel tetap bisa digunakan dan sesuai kebutuhan serta kemampuan orang Indonesia," tegas dia.
Tag
Berita Terkait
-
Profil 'Super-Trader' Danantara Sumberdaya Indonesia, Sang Penyelamat Rp15.400 Triliun
-
BYD Akui Pede Hadapi Gempuran Merek Mobil Listrik Baru di Indonesia
-
BUMN Jadi Eksportir Tunggal Tiga Komoditas Ini, Nikel Tidak Termasuk
-
IBC Berharap Pemerintah Beri Insentif untuk Baterai Nikel Buatan Dalam Negeri
-
Penjualan MG Indonesia Terjun Bebas, Tersingkir dari Persaingan Sepuluh Besar
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Krisis Kapal Pengangkut Paksa Produsen Mobil China Gunakan Strategi Darurat demi Ekspor Global
-
Rating Keselamatan Bintang Lima Bukan Jaminan Aman dari Bahaya Tabrak Belakang
-
5 Mobil Listrik Murah 150 Jutaan dari Atto 1 hingga Ioniq, Simak Saran Pakar
-
Intip Pesona Motor Listrik Mungil dari Yamaha: Cocok Gantikan BeAT, Jarak Tempuh 83 Km
-
Yamaha Mio 150 Mengaspal, Beginikah Wujudnya? Bodi Mungil Mesin Seperkasa Aerox
-
Komunitas XMAX Lihat Langsung Dapur Produksi Motor Yamaha di Pulogadung
-
Honda Rebel 1100 Hadir dengan Penyegaran Warna Baru
-
Solusi Buruh dan Mahasiswa: 5 Motor Gesit yang Bisa Dibeli dengan Harga Under 10 Juta
-
5 Pilihan Motor Lebih Murah dari Honda BeAT tapi Bagasinya Besar, Lebih Bertenaga
-
Daftar 10 Provinsi yang Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Juli 2026