Otomotif / Mobil
Rabu, 24 Juni 2026 | 09:15 WIB
Ilustrasi mobil listrik di tengah kenaikan harga BBM. (freepik)
Baca 10 detik
  • Kenaikan harga BBM pada semester pertama 2026 mendorong masyarakat Indonesia beralih membeli kendaraan listrik demi penghematan biaya.
  • Penjualan mobil listrik GAC dan merek China lainnya meluas ke wilayah Bandung, Surabaya, serta kota besar lainnya.
  • Pertumbuhan infrastruktur pengisian daya mendukung penjualan, meskipun penundaan insentif PPN sempat menyebabkan calon konsumen menunda proses pembelian.

Suara.com - GAC Indonesia menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai berdampak positif terhadap penjualan mobil listrik di Tanah Air. Masyarakat dinilai mulai beralih ke kendaraan listrik sebagai upaya menghemat biaya operasional.

CEO GAC Indonesia, Andry Ciu, mengatakan secara volume penjualan kendaraan listrik sepanjang semester pertama 2026 menunjukkan tren peningkatan. Menurutnya, salah satu faktor yang mendorong kenaikan tersebut adalah naiknya harga BBM.

"Penjualan secara volume sebenarnya naik. Terutama dengan adanya kenaikan harga BBM, penjualan mobil EV juga naik," ujarnya di Jakarta belum lama ini.

Ia bahkan menilai fenomena tersebut tidak hanya dirasakan GAC tetapi juga dialami sejumlah merek kendaraan listrik asal China lainnya yang memasarkan mobil listrik di Indonesia.

Bahkan kenaikan harga BBM juga mulai mengubah perilaku masyarakat dalam memilih kendaraan. Di tengah meningkatnya biaya hidup, kendaraan listrik dinilai menjadi salah satu solusi untuk menekan pengeluaran harian.

"Karena biaya hidup menjadi lebih tinggi, orang mencari penghematan. Salah satunya dengan menggunakan kendaraan listrik," ujarnya.

Dari sisi wilayah penjualan, Andry mengatakan permintaan mobil listrik GAC juga mulai meningkat di sejumlah kawasan. Jika sebelumnya mayoritas penjualan berasal dari Jakarta Utara dan Jakarta Barat, kini pertumbuhan mulai terlihat di Jakarta Selatan, Tangerang, hingga kota-kota besar di luar Jabodetabek seperti Bandung dan Surabaya.

Menurutnya, meningkatnya penjualan di daerah tersebut tidak lepas dari semakin berkembangnya infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik.

"Di kota-kota yang infrastruktur pengecasannya sudah baik, hasil penjualannya juga ikut bagus,"katanya.

Baca Juga: Kualitas Perangkat Lunak Toyota bZ4X Dipertanyakan Setelah Recall Berulang Kali

Meski demikian, Andry mengaku penjualan sempat terdampak oleh penundaan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) kendaraan listrik yang sebelumnya dijanjikan pemerintah. Kondisi itu pun membuat sebagian calon konsumen memilih menunda pembelian sambil menunggu kejelasan insentif.

"Penundaan pasti ada. Apalagi melihat situasi politik seperti sekarang, banyak demonstrasi, jadi ada konsumen yang memilih wait and see. Tapi secara keseluruhan masih terkendali. Dibanding tahun lalu, penjualan tetap naik," pungkasnya.

Load More