Persaingan Investasi Toyota Memanas Thailand Rombak Aturan Pajak Demi Bendung Indonesia

Selasa, 18 Agustus 2026 | 16:15 WIB
Logo Toyota. [Cicero7/Pixabay]
  • Thailand merevisi aturan pajak cukai otomotif pada September 2026 untuk mempertahankan investasi pabrik kendaraan nasional.
  • Kebijakan ini merespons langkah Menteri Keuangan Indonesia yang membujuk Toyota memindahkan basis produksinya saat GIIAS 2026.
  • Skema baru tersebut mengenakan pajak lebih ringan bagi kendaraan lokal dan mengenakan beban berat pada mobil impor.

Suara.com - Thailand tengah menyiapkan langkah strategis dengan mengubah aturan pajak cukai otomotif guna mempertahankan investasi manufaktur kendaraan di dalam negeri. Kebijakan ini muncul sebagai respons cepat terhadap upaya intensif Indonesia yang mencoba menarik minat Toyota untuk memindahkan basis produksi dari Negeri Gajah Putih.

Laporan Nation Thailand menyebutkan bahwa Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan Thailand Ekniti Nitithanprapas menargetkan struktur pajak baru tersebut rampung pada September 2026. Pemerintah setempat berharap regulasi ini dapat diimplementasikan sebelum akhir tahun guna menjaga stabilitas industri otomotif nasional.

Langkah proteksi ini dipicu oleh manuver Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa yang membujuk Toyota saat perhelatan GIIAS 2026. Pemerintah Indonesia dikabarkan menawarkan berbagai insentif dan pemenuhan syarat khusus bagi Toyota jika bersedia memperluas fasilitas manufaktur di Tanah Air.

Demi menjaga statusnya sebagai pusat otomotif regional Thailand akan memberikan tarif cukai yang jauh lebih rendah bagi kendaraan produksi lokal. Sebaliknya kendaraan utuh atau Completely Built Up (CBU) yang diimpor tanpa disertai investasi pabrik di Thailand akan dikenakan beban pajak lebih berat. Skema ini berlaku menyeluruh mulai dari kendaraan mesin konvensional hingga mobil listrik.

Ekniti menjelaskan bahwa instrumen pajak cukai dipilih karena pemerintah tidak bisa menaikkan bea masuk bagi negara mitra dalam perjanjian perdagangan bebas. Hal ini dilakukan agar produsen lokal tetap memiliki daya saing yang kuat menghadapi serbuan produk impor.

“Siapa pun yang ingin menggunakan mobil impor akan menghadapi pajak lebih tinggi, sementara pajak kendaraan yang dibuat di dalam negeri sudah sangat rendah,” ujarnya, dikutip Selasa (18/8/2026).

Selain mempertahankan basis produksi saat ini Thailand juga membidik perluasan pasar ekspor ke Australia dan Selandia Baru. Pemerintah akan memanfaatkan kunjungan resmi Perdana Menteri Anutin Charnvirakul untuk membuka peluang baru bagi kendaraan rakitan lokal termasuk varian listrik guna memperkuat ekosistem industri mereka di kancah global.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com