- CEO Hyundai Jose Munoz memperingatkan pasar AS bisa dikuasai merek China jika pembatasan impor dihapuskan.
- Pabrikan AS menuding produsen China mendapat keuntungan tidak adil dari subsidi negara serta manipulasi mata uang.
- CEO Ford Jim Farley memperkirakan merek-merek otomotif Tiongkok akan resmi memasuki pasar AS dalam lima hingga sepuluh tahun.
Suara.com - Meskipun mobil listrik China belum mendominasi pasar Amerika Serikat akibat tarif tinggi, produsen otomotif global mulai mengkhawatirkan masa depan. Terlebih setelah Presiden Donald Trump menyatakan terbuka terhadap pabrikan China yang ingin membangun fasilitas produksi di AS, Hyundai menjadi produsen terbaru yang menyuarakan kecemasaannya.
CEO Hyundai Motor, Jose Munoz, memperingatkan bahwa pasar mobil AS bisa mulai menyerupai pasar Inggris dan Eropa jika pemerintah menghapus pembatasan impor.
"Inggris, yang di masa lalu merupakan pasar yang sangat menguntungkan dan kuat, telah menjadi seperti China. Semua penjual teratas adalah orang China karena tidak ada hambatan. Jadi saya pikir kita dapat mengharapkan hal serupa terjadi di AS, pada tingkat yang berbeda, kecuali ada kondisi tertentu," kata Munoz seperti dilaporkan Reuters, Senin (21/9/2026).
Saat ini, mobil listrik China sulit bersaing di Amerika Serikat akibat pengenaan tarif impor mencapai 100 persen. Kendati demikian, wacana pembukaan akses industri bagi produsen China memicu penolakan dari berbagai pihak.
American Automotive Policy Council yang mewakili Ford, General Motors, dan Stellantis menuding bahwa pabrikan Tiongkok mendapat keuntungan tidak adil dari subsidi negara, manipulasi mata uang, serta regulasi non-pasar.
Di sisi lain, CEO Ford Jim Farley memperkirakan merek-merek Tiongkok akan resmi memasuki pasar AS dalam rentang lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Munoz menilai ancaman tersebut nyata lantaran mobil buatan China memiliki efisiensi biaya yang sangat tinggi. Di Eropa, meskipun Uni Eropa telah menerapkan tarif tambahan untuk mengatasi isu subsidi negara, harga mobil buatan China diklaim masih 30 hingga 40 persen lebih murah di beberapa wilayah pasar.