Pemilik Makin Hemat, Penggantian Ban Mobil Banyak Ditunda Akibat Daya Beli Melemah

Kamis, 24 September 2026 | 15:04 WIB
Ilustrasi melakukan penggantian ban mobil. (Foto: Bridgestone).
BACA 10 DETIK
  • President Director PT Bridgestone Tire Indonesia, Mukiat Sutikno, menyatakan konsumen menunda penggantian ban mobil meski kondisinya sudah sangat aus di PIK 2 pada Kamis, 24 September 2026.
  • Perilaku menunda perawatan akibat tekanan daya beli tersebut terjadi pada kendaraan menengah ke bawah hingga mobil kelas premium di jaringan Tomo Express.
  • Dampak pelemahan pasar ini membuat penjualan industri ban mengalami perlambatan pada semester II 2026 setelah sempat tumbuh empat persen di semester pertama.

Suara.com - Tekanan pada daya beli masyarakat kini mulai berdampak langsung terhadap pasar ban mobil di Indonesia. Para pemilik kendaraan dilaporkan cenderung memperpanjang masa pakai ban dan menunda penggantian meski kondisinya sudah tidak layak.

President Director PT Bridgestone Tire Indonesia, Mukiat Sutikno, mengungkapkan tantangan ini mewarnai dinamika industri ban pada semester II 2026. Menurut Pengamatan di lapangan, konsumen memilih menahan anggaran perawatan meski telah menerima peringatan dari pihak bengkel.

"Konsumen ini sekarang bahkan ada yang sengaja memperlama pergantian bannya. Daripada dua bulan lagi harus ganti, mereka memilih tiga sampai empat bulan baru balik," ujarnya di kawasan PIK 2, Kamis (24 September 2026).

Fenomena tersebut kerap ditemukan di jaringan Tomo Express. Banyak pengguna kendaraan tetap melakukan perawatan rutin seperti balancing dan spooring, padahal kawat di dalam struktur ban sudah mulai terlihat akibat keausan parah.

Tren menunda penggantian komponen vital ini tidak hanya melanda segmen kendaraan menengah ke bawah. Mukiat menyebutkan bahwa mobil kelas premium pun kerap ditemukan masih melintas dengan kondisi ban yang sangat aus.

"Jadi hal-hal tersebut terus terjadi. Dan kalau kita bilang hal itu cukup bahaya ya. Karena ini sebenarnya kan cengkeraman paling utama ada di bannya," katanya.

Perilaku konsumen tersebut berdampak langsung pada performa penjualan. Setelah mencatatkan pertumbuhan sekitar 4 persen pada semester I 2026, laju pasar ban mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan memasuki paruh kedua tahun ini.

"Semester 1 tahun 2026 ini cukup baik. Tapi untuk di semester 2 mulai Juli, Agustus, September ini, kita melihat memang ada market yang cukup slow down. Jadi ada pelemahan pasar dibandingkan semester kedua 2025," ujar Mukiat.

Selain faktor penurunan daya beli, pergeseran prioritas pengeluaran rumah tangga ikut memengaruhi pasar. Jika semester pertama terdorong oleh mobilitas tinggi periode Lebaran, semester kedua bertepatan dengan pengeluaran untuk liburan sekolah serta tahun ajaran baru.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com