Ponorogo.suara.com – Sebuah pesan Direct messege (DM) yang mempertanyakan pemberian susu kental manis oleh petugas posyandu kepada anak yang berstatus stunting di akun instagram dokter Tan Shot Yen yang juga sebagai pengamat stunting nasional, viral.
Dalam pesan yang ditujukan kepada Dokter Gizi tersebut tertulis bahwa ada anak stunting diberikan susu kental manis sebanyak 4 kaleng, telur dan biskuit oleh kader posyandu. Pengirim pesan juga menyebutkan lokasi pemberian paket bantuan untuk anak stunting tersebut berada di desa Mlarak, Kabupaten Ponorogo Jawa timur.
Pengirim pesan juga menjelaskan ke dokter Tan bahwa ibu-ibu di lokasi tersebut juga minim pengetahuan. Dokter tan yang menerima laporan tersebut langsung menandai Instagram @adinkes_pusat, @kemenkes_ri, @dit.promkes @gizimasyarakat @bbkbnofficial, @khofifah.ip hingga akun Instagram Presiden Joko Widodo @jokowi.
Liswarni, Sub Koordinator Kesehatan Gizi Masyarakat Dinkes Ponorogo menjelaskan kasus viral terkait anak berstatus Stunting di wilayah Mlarak, Kabupaten Ponorogo memang benar adanya. Dinkes sudah menghubungi pihak Puskesmas dan petugas Kesehatan yang ada di desa tersebut.
Liswarni menyebutkan, pemberian paket PMT untuk balita stunting memang masuk dalam anggaran desa. isi Paketnya tidak hanya susu kental manis, tetapi juga ada biskuit dan telur. Untuk susu kental manis, ia menekankan bahwa produk tersebut tidak direkomendasikan untuk anak dengan status Stunting, namun saat di konfirmasi ke kader di lokasi, susu kental manis tersebut merupakan bahan tambahan untuk produk olahan.
“kita sudah konfirmasi, bahwa susu kental manis bukanlah bahan makanan utama, melainkan bahan tambahan untuk produk olahan” katanya ditemui ponorogo.suara.com rabu (8/3/2013)
Liswarni menambahkan, saat ini jumlah anak dengan status stunting mencapai 5.240 atau 13,13% dari total anak di Kabupaten Ponorogo.
Produk susu kental manis, menurut ikatan dokter Anak ndonesia memang sangat tidak diperbolehkan di konsumsi anak-anak, karena dapat memicu terjadinya stunting pada anak.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menyebut, produk tersebut berisikan krim kental manis dengan kadar gula yang sangat tinggi, sehingga bisa memicu anak stunting, diabetes hingga obesitas.
Baca Juga: Mengintip Gaji Pejabat Kemenkeu yang Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
Pilihan
-
5 HP Baterai Jumbo untuk Driver Ojol agar Narik Seharian, Harga mulai dari Rp2 Jutaan
-
Bom Molotov Meledak di SMPN 3 Sungai Raya, Polisi Ungkap Terduga Pelaku Siswa Kelas IX
-
KPK Benarkan Lakukan OTT di Jakarta Hari Ini, Siapa Targetnya?
-
Resmi! Indonesia Masuk Daftar Kandidat Tuan Rumah Piala Asia 2031
-
Mauro Zijlstra Resmi Gabung Persija
Terkini
-
14 Pejabat Eselon II Pemkot Cilegon Diambil Sumpah, Ini Daftar Nama dan Jabatanya
-
UNM Punya Plt Rektor Baru, Bagaimana Kelanjutan Kasus Karta Jayadi?
-
Harga Pangan Merangkak Naik Jelang Ramadan, Pedagang Tekan Stok dan Porsi demi Bertahan Hidup
-
Xiaomi Pad 8 Siap Meluncur di Pasar Global, Usung Chipset Kencang Snapdragon 8s Gen 4
-
4 Brightening Sleeping Mask Alcohol-Free untuk Kulit Cerah Tanpa Iritasi
-
Cara Mengaktifkan 2FA: Langkah Mudah Lindungi Akun Media Sosial dari Peretas
-
Lempar Bom ke Sekolah, Siswa SMP di Kubu Raya Ternyata Terpapar TCC dan Jadi Korban Perundungan
-
Galon Air Minum Tampak Buram dan Kusam? Waspadai Risiko BPA Semakin Tinggi
-
Purbaya Sebut Revisi UU P2SK Bisa Perbaiki Gejolak Pasar Saham
-
Seni Meraih Doktor Berasa Healing di Eropa: Sebuah Perjalanan yang Menginspirasi