SUARA PONOROGO - Cuaca panas yang terus melanda Kabupaten Ponorogo telah berdampak serius pada sejumlah daerah di wilayah tersebut. Salah satunya adalah Desa Sidoarjo, terutama Dukuh Sukun di Lingkungan Magersari, yang kini menghadapi masalah kekeringan akut.
Sebanyak 68 warga di Dukuh Sukun terpaksa harus membeli air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena pasokan air dari sungai utama di desa tersebut mulai merosot akibat kekeringan.
Sumiati, seorang penduduk setempat yang telah tinggal di Desa Sidoarjo selama 20 tahun, mengungkapkan kesulitan yang dihadapi warga. "Kendalanya sumur kering, mau mandi susah, bikin masak susah. Kecuali ada air isi ulang ini tapi beli," ungkap Sumiati.
Dia menjelaskan bahwa selama seminggu ini, penduduk di daerah itu harus mengandalkan air sungai untuk mandi dan mencuci, sementara untuk air minum mereka terpaksa membeli air isi ulang.
Ketua RT 4 RW 4, Nurhadi (49), menyoroti dampak buruk dari kekeringan yang semakin parah.
"Kemarau perkiraan bulan 7 mulai kering, apalagi nanti kalau dari pesanggem yg ada di hutan ini pengelola dilahan2 ini. Semua datang otomatis kita hanya punya satu sumur saja habis gak mencukupi," kata Nurhadi.
Dengan adanya penambahan populasi penduduk, seperti yang terjadi saat pesanggem datang, pasokan air semakin tidak mencukupi.
Warga Desa Sidoarjo bergantung pada air sungai sebagai sumber air utama mereka. Mereka menggunakan air sungai untuk mencuci dan mandi, sementara untuk minum mereka harus membeli air isi ulang.
Air sungai ini sebenarnya mengalir setiap hari, namun ada periode ketika aliran air terhenti pada minggu dan senin. Hal ini terkait dengan aliran air irigasi ke desa tetangga, Siman.
Baca Juga: Usung Tema Pemberantasan TPPO Berbasis Teknologi, Kemenlu Gelar HWPA 2023
"Kalau sabtu minggu gak ngalir, otomatis sumur ya juga mati dan habis," tambah Nurhadi.
Keadaan semakin pelik karena daerah ini menerima kedatangan warga dari berbagai tempat di sekitarnya, seperti Ngebel, Pulung Wagir, Ngawi, Slahung, dan Pudak.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak penduduk desa ini awalnya bermukim di sini karena mencari pekerjaan. Namun, karena kurangnya lapangan pekerjaan, mereka kemudian membuka lahan untuk bertani dan bahkan membantu pihak perhutanan dalam kegiatan pemanenan daun.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Kebakaran Empat Lawang, 20 Rumah Terdampak dan Kerugian Tembus Rp5,2 Miliar
-
3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan
-
Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal
-
Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan
-
Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee
-
KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui
-
BRI Beri Diskon Spesial Seminar Johnny Andrean Lewat Aplikasi BRImo
-
Menuju IFRC 2026, ERT NHM Perdalam Teknik dan Strategi Penyelamatan
-
Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya
-
PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan