- Produk alternatif kurangi risiko kesehatan hingga 95% dibanding rokok.
- Peralihan ke vape memperbaiki pernapasan dan kualitas hidup keluarga.
- Pendekatan harm reduction jadi opsi efektif tekan prevalensi merokok.
Suara.com - Prevalensi merokok yang tetap tinggi di Indonesia mulai mendorong pergeseran paradigma konsumsi ke arah produk tembakau alternatif. Pendekatan yang dikenal sebagai Tobacco Harm Reduction (THR) atau pengurangan bahaya tembakau kini menjadi sorotan, seiring dengan meningkatnya kesadaran konsumen akan kualitas hidup dan riset ilmiah yang mendukung penggunaan produk rendah risiko.
Produk seperti rokok elektronik (vape), produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan instrumen bagi perokok dewasa untuk beralih dari rokok konvensional secara bertahap.
Aldi, seorang edukator di balik akun Instagram @vapeducation, menekankan pentingnya literasi data sebelum beralih. Berdasarkan kajian Public Health England (kini UK Health Security Agency), produk tembakau alternatif diklaim memiliki risiko hingga 95% lebih rendah dibandingkan rokok konvensional karena menurunkan paparan zat berbahaya secara signifikan.
"Tahun 2015 sudah ada jurnal yang menyebutkan vape 95% lebih tidak berbahaya dibanding rokok. Dari situ saya memutuskan beralih," ujar Aldi (9/5/2026). Setelah berhenti total dari rokok, ia merasakan peningkatan kebugaran fisik, seperti pernapasan yang lebih lega.
Selain faktor kesehatan, kenyamanan lingkungan menjadi pendorong utama. Hanif (31), seorang karyawan di Jakarta Selatan, mengaku dukungan keluarga dan hilangnya bau asap rokok di rumah menjadi faktor kunci konsistensinya beralih ke rokok elektronik.
"Rumah jadi tidak bau asap rokok. Itu yang membuat saya makin yakin lanjut pakai vape," ungkap Hanif.
Meski bukan sepenuhnya tanpa risiko, produk tembakau alternatif dipandang sebagai solusi pragmatis bagi perokok dewasa yang kesulitan berhenti secara instan. Integrasi antara informasi berbasis riset, transparansi risiko, dan akses terhadap produk alternatif diharapkan mampu menjadi katalis dalam menekan prevalensi merokok serta meningkatkan standar kesehatan masyarakat secara nasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
Terkini
-
Hanya Berlangsung 3 Hari, IHSG Pekan Ini Akan Dibayangi Rebalancing MSCI
-
Suku Bunga Kredit Bank Resmi Turun ke 8,76 Persen, OJK Ungkap Proyeksinya
-
Saham Lagi 'Diskon' atau Jebakan? Cek Analisis IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Ini
-
Alasan Server Judi Online Mulai Bergeser dari Kamboja ke Indonesia
-
Purbaya Terima Aduan 46 Ribu Masalah Ditjen Pajak dan Bea Cukai
-
Cerita Purbaya Ditekan Investor Asing Gegara Ragukan Kondisi Ekonomi RI
-
Diproyeksi Masih Tertekan, Intip Ramalan Pergerakan IHSG Pekan Depan
-
Progres Pembangunan Pabrik Kimia Milik Chandra Asri Capai 66%
-
Nilai Tukar Rupiah Bisa Terus Melorot ke Level Rp 17.500 di Pekan Depan
-
UMKM Binaan Pertamina Raup Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026