SUARA PONOROGO - Musim kemarau yang melanda Kabupaten Bumi Reog dalam dua bulan terakhir ini telah mengakibatkan serangkaian musibah kebakaran yang cukup intensif.
Lebih dari 17 kebakaran tercatat telah terjadi selama kurun waktu tersebut, menyebabkan kerusakan parah pada lahan hutan milik Perhutani serta lahan-lahan yang ditempati oleh warga.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo, Sapto Djatmiko, mengungkapkan bahwa dampak kemarau yang terkait dengan fenomena El Nino menjadi penyebab utama dari bencana ini.
Berdasarkan rilis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), daerah ini sedang mengalami dampak kuat El Nino yang mengakibatkan periode kekeringan yang panjang.
"Diperkirakan puncak kekeringan akan terjadi pada bulan September dan Oktober, dan dampaknya masih akan dirasakan oleh masyarakat," ungkap Sapto Djatmiko.
Ia juga menekankan pentingnya waspada terhadap dampak kekeringan ini, terutama terkait potensi kebakaran hutan dan ketersediaan air bersih.
Pihak berwenang telah memberikan peringatan kepada masyarakat setempat untuk melakukan langkah-langkah antisipatif dalam menghadapi situasi ini.
Sejak bulan Juli hingga Agustus, tercatat ada 17 titik kebakaran yang terjadi di 4 kecamatan yang berbeda.
Namun, upaya penanggulangan dan pemadaman kebakaran telah berjalan dengan baik berkat kerjasama antara kepolisian, TNI, dan masyarakat setempat.
"Kami memiliki teknik khusus dalam memadamkan api, baik pada siang hari maupun malam hari," tambahnya.
Sapto Djatmiko juga menjelaskan bahwa luas lahan yang terkena dampak kebakaran bervariasi antara 5 hingga 7 hektar per titik kebakaran.
Banyak faktor yang dapat memicu kebakaran ini, baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Beberapa faktor yang sering menjadi penyebab termasuk pembuangan puntung rokok sembarangan, pembakaran sampah yang tidak terkontrol, dan faktor-faktor lainnya.
Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dan kerjasama dari semua pihak untuk menghindari perilaku yang dapat memicu kebakaran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Lenovo IdeaPad Slim 3i, Laptop AI Harga Mulai Rp11,7 Juta, Bawa NPU 17 TOPS, dan RAM Upgradable
-
Bikin Matte Seharian! 4 Sunscreen Korea Oil Control untuk Kulit Berminyak
-
IHSG Dibayangi Aksi Jual Saham AI, Perusahaan Outsourcing Justru Bersinar
-
Micellar Water Wardah Pink untuk Kulit Apa? Ini Klaim dan Review Pengguna
-
Jurus Agar Pemerintah Bisa Capai Target Lifting Minyak 610 Bph di 2027
-
Bongkar Pengelolaan Dana Umat, Transparansi Digital Jadi Kunci Perkuat Kepercayaan Publik
-
Usai Habisi Nyawa Anak Sendiri, Ibu di Pamekasan Dibawa ke RSJ
-
AI, Kreator, dan Livestream Jadi Senjata Baru Bisnis, Meta Bidik Pasar Asia Pasifik
-
Alasan Dibalik Pemberhentian Sementara Direktur Niaga Garuda Indonesia
-
Dana Kekayaan Norwegia: Waspadai Saham AI!