Poptren.suara.com - Tubuh memerlukan zat gizi makro agar tetap sehat. Zat gizi makro terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak.
Dari ketiganya, karbohidrat kerap kali "dimusuhi" oleh orang-orang yang sedang diet untuk menurunkan berat badan atau mengidap penyakit diabetes.
Sementara protein justru dikonsumsi berlebihan terutama oleh orang-orang yang sedang program untuk pembentukan otot.
Dokter Spesialis Gizi dr. Shiela Stefani M.Gizi, Sp.GK, AIFO-K., menekankan bahwa kedua pemahaman itu keliru. "Mitos tentang diet itu banyak, salah satunya soal pembentukan otot. Karena pemahaman protein saja bisa membuat tubuh lebih berotot, jadi semua mengonsumsi protein yang banyak terutama daging merah. Ternyata itu mitos," kata dokter Shiela dalam webinar bersama Halodoc.
Ia menjelaskan bahwa benar kalau protein jadi sumber nutrisi pembentukan otot. Tetapi, itu saja tidak cukup walaupun sudah konsumsi protein sebanyak mungkin.
"Secara penelitian, konsumsi protein yang cukup, bukan berlebihan, bukan sebanyak-banyaknya. Itu dikombinasi dengan latihan pertahanan otot, baru bisa mengalami perubahan atau pembesaran otot. Jadi bukan makan saja, apalagi berlebihan," jelasnya.
Sementara itu, mitos mengenai karbohidrat juga kerap terjadi terutama pada kelompok orang yang mengidap diabetes. Lantaran karbohidrat mengandung glukosa, sehingga orang mungkin khawatir kadar gula darah akan meningkat apabila mengonsumsi karbohidrat.
Padahal, dokter Shiela menjelaskan bahwa karbohidrat tetap diperlukan tubuh sebagai sumber energi untuk beraktivitas.
"Pasien kencing manis masih boleh mengonsumsi karbohidrat. Tapi memang yang disarankan (karbohidrat) yang kompleks, tidak disarankan untuk mengonsumsi karbohidrat sederhana, seperti gula dan tepung," paparnya.
Baca Juga: Konsumsi Minuman Protein sebelum Makan Bantu Kontrol Diabetes, Begini Penjelasan Peneliti
Pasien diabetes biasanya akan diresepkan obat penurun kadar gula darah oleh dokter.
Sehingga, apabila pasien juga tidak mengonsumsi karbohidrat sama sekali justru berisiko alami hipoglikemi atau gula darah terlalu rendah.
"Karena kalau tidak mengonsumsi karbohidrat atau mengonsumsi karbohidrat yang rendah, ditambah dengan obat-obatan yang menurunkan gula darah, maka bisa gula darahnya drop atau rendah. Itu justru bahaya, bisa sampai penurunan kesadaran," jelas dokter Shiela.
Sumber : suara.com
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Bangunan Dapur MBG di Muara Enim Jadi Sasaran Maling, Motor dan Ponsel Raib
-
Pasar Murah HUT RI Digelar di 5 Kecamatan Palembang, Ada Diskon Belanja Rp10 Ribu
-
Kado Anniversary Sempat Bikin Mahalini Kesal, Rizky Febian Bongkar Rencana Rahasianya
-
Apakah Serum Vitamin C Boleh Dipakai Malam Hari? Ini Waktu Terbaik Agar Glowing Maksimal
-
Review Skintific 2% Salicylic Acid, Serum Ampuh Bikin Jerawat Meradang Langsung Kempes
-
73 Hotspot Terpantau di Kalsel, Kemenhut Dorong Verifikasi Dini Karhutla
-
Apresiasi Pidato Prabowo, Jubir PSI: Pertumbuhan Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
-
Pengamat Kejaksaan: Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Anggota Tim 9
-
Review Unerd Beat Tempo, Sepatu Lari Rp500 Ribuan Cocok Buat Interval dan Tempo Run
-
Gempa Flores, Ratusan Paket Bantuan Darurat Disalurkan ke Lima Titik Pengungsian