Poptren.suara.com - Kecemasan merupakan emosi yang bisa dirasakan semua orang. Emosi ini termasuk seperti gelisah dan pemikiran berlebihan atau overthinking. Kecemasan ini adalah respons yang diciptakan pikiran dan tubuh untuk beradaptasi dengan situasi yang bisa mengancam.
Ada juga kecemasan yang bida merugikan atau tidak wajar. Berikut ini ciri kecemasan yang sudah tidak wajar menyadur dari laman Psychologytoday, yakni :
1. Kecemasan kamu tidak turun sepanjang hari
Tingkat kecemasan yang tinggi sepanjang hari dan tidak berkurang pada malam hari bisa menjadi salah satu ciri kecemasan yang tidak wajar.
Menurut penelitian, bagi kebanyakan orang yang cemas akan mereda pada sore hari. Nah, jika kecemasan tetap tidak turun artinya kamu memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Hal ini bisa sangat mengganggu dan membuat orang tidak fokus dalam melakukan sesuatu.
Kecemasan yang seperti ini bisa diatasi dengan gaya hidup sehat, seperti memprioritaskan tidur dan berolahraga secara teratur. Selain itu, kita juga bisa mengatasi kecemasan ini dengan menerima ketidakpastian dalam hidup karena faktor utama adalah ketakutan akan ketidakpastian itu sendiri.
2. Kecemasan kamu masuk ke dalam mimpimu
Ciri kecemasan yang sudah tidak wajar selanjutna jika kecemasan itu sudah ikut ke dalam mimpi. Jadi, menurut sebuah penelitian beberapa topik mimpi yang terjadi pada pasien kecemasan ini memiliki tema menarik dibandingkan dengan orang sehat. Tema ini seperti dikejar-kejar, diserang secara fisik, takut jatuh, dan sebagainya.
Jika kamu merasakan kecemasan tersebut alangkah lebih baiknya untuk berkonsultasi dengan seorang psikoanalis. Hal ini akan mengurangi kecemasan yang ada karena mereka memiliki pengalaman dengan gangguan kecemasan yang berkaitan isi mimpi.
Baca Juga: HUT RI ke-77 Jadi Tambahan Motivasi Fajar / Rian di Kejuaraan Dunia
3. Kecemasan kamu membuat orang sekitar stres
Kecemasan yang terjadi pada individu ternyata berdampak pada orang sekitar atau bahkan pasangan jika sudah pada tingkat yang tinggi. Orang yang memiliki emosi negatif seperti kecemasan yang berlebihan juga akan menyulitkan orang sekitar.
Oleh karena itu, lebih baik untuk berkomunikasi yang baik. Kita bisa jujur dan terbuka dengan pasangan atau orang sekitar tentang kondisi kita. Selain itu, kita juga bisa berkonsultasi dengan konselor atau terapis pasangan dalam situasi ini.
Sumber : Yoursay.id
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
5 Lip Cream Lokal Harga di Bawah Rp50 Ribu Terbaik, Tahan Lama Sesuai Review Pengguna
-
Shin Tae-yong Tak Sangka Persija Finis Peringkat 3 Piala Presiden 2026, Kenapa?
-
Bitcoin Hingga XRP Anjlok Massal, Indeks CFX10 Merosot 1%
-
Tragedi Kebakaran di Sukabumi, Tewaskan 3 Bocah Bersaudara
-
Infrastruktur Jalan PLTP Mataloko Permudah Mobilitas Petani dan Gerakkan Ekonomi Masyarakat
-
5 Rekomendasi Drakor Investigasi Beragam Profesi dengan Kasus yang Seru
-
Maba UI Lempar Pertanyaan Menohok ke Bima Arya: Pilih Pendidikan atau Makan Bergizi Gratis?
-
Sopir Angkot M44 Protes Rute Tumpang Tindih, Dishub DKI Siapkan Evaluasi Mikrotrans 48A
-
Anak Imigran Afrika-Maroko Jebol Perbatasan Ceuta Spanyol Terancam Pelecehan dan Kekerasan
-
Bukan Sekadar Salah Ketik, Komentar Nirempati Nakes Dinilai Cerminan Krisis Literasi Media