News / Internasional
Rabu, 06 Mei 2026 | 10:00 WIB
Donald Trump [The White House]
Baca 10 detik
  • Presiden Donald Trump menghentikan operasi militer di Selat Hormuz untuk membuka peluang negosiasi damai dengan pihak Iran.
  • Keputusan tersebut diambil guna meredam lonjakan harga energi dunia akibat gangguan pada jalur distribusi minyak internasional.
  • Korps Garda Revolusi Islam Iran tetap memperketat pengawasan jalur pelayaran strategis meskipun operasi militer AS dihentikan sementara.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menghentikan sementara operasi militer di Selat Hormuz setelah meningkatnya ketegangan dengan Iran yang berdampak pada stabilitas ekonomi global.

Keputusan ini diambil di tengah kekhawatiran lonjakan harga energi dunia akibat terganggunya jalur distribusi minyak yang vital bagi perdagangan internasional.

Operasi Militer Dihentikan Sementara

Trump mengumumkan melalui platform Truth Social bahwa operasi pembebasan jalur pelayaran dihentikan sementara guna memberi ruang bagi proses negosiasi.

Ia menyebut keputusan tersebut diambil setelah adanya komunikasi dengan sejumlah negara, termasuk Pakistan, serta indikasi kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran.

“Kami sepakat bahwa, meskipun blokade tetap berlaku, operasi akan dihentikan sementara untuk melihat kemungkinan kesepakatan dapat dicapai,” tulis Trump.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Teheran terkait klaim tersebut.

Iran Perketat Kontrol Jalur Energi

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperluas pengawasan di Selat Hormuz dengan menetapkan koridor pelayaran tertentu.

Baca Juga: Ketegangan Selat Hormuz Memanas Kembali, Iran Serang Zona Industri Minyak Uni Emirat Arab

Langkah ini disertai peringatan kepada kapal-kapal asing untuk mematuhi aturan yang ditetapkan atau menghadapi risiko keamanan.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan energi global.

Dampak Ekonomi Global Menguat

Ketegangan di kawasan Teluk turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dan pupuk, yang berpotensi memicu tekanan inflasi dan krisis pangan di berbagai negara.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan operasi ofensif telah dihentikan dan situasi masih dipantau.

“Tidak ada penembakan kecuali kami diserang lebih dulu,” ujarnya di Washington.

Load More