/
Selasa, 28 Februari 2023 | 14:54 WIB
Ilustrasi melepas cincin kawin (cerai). (iStock)

Poptren.suara.com - Ketika saat menikah kamu mengatakan "Saya bersedia,", tentu saja saat itu kamu meyakini untuk tetap bersama dengan pasangan selamanya. Tapi seiring berjalannya waktu, mungkin ada hal-hal yang terjadi yang dapat membuat kamu berpikir ulang tentang janji tersebut.

Misalnya, mungkin salah satu dari kamu telah 'berevolusi' sehingga mengurangi kecocokan kamu dan pasangan. Di sisi lain, mungkin faktor eksternal, termasuk pekerjaan baru, pindah ke luar negeri, atau kehadiran anak dalam keluarga telah menciptakan terlalu banyak ketegangan yang tidak dapat ditanggung bersama.

Hingga pada akhirnya, jika kamu merasa pernikahan telah mengarah pada titik yang tidak dapat diperbaiki, boleh jadi perceraian adalah pilihan yang masuk akal. Karena, memaksakan diri untuk tetap berada dalam pernikahan yang tidak bahagia mungkin bukan jawaban untuk kamu dan pasangan.

Lalu, kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk memutuskan pernikahan dan bercerai? Psikolog Australia, Noosha Mehmanli Anzab, memberikan panduan secara rinci seperti dikutip dari Brides.

1. Ketika hal sepele menjadi sumber keributan

Anzab mengatakan bahwa gangguan kecil atau sepele dalam semua aspek kehidupan dapat memicu kemarahan dan kekesalan. Memang, kita semua pernah mengalami hal ini, dan lazimnya akan terselesaikan dengan sendirinya atau mungkin mengabaikannnya.

Tapi, ketika masalah sepele tadi sudah membuat kamu depresi dan stres, serta tak menemukan jalan keluar sama sekali, itu tandanya pernikahan kamu telah memiliki masalah besar.

2. Ketika tujuan hidup tak lagi sejalan

Umumnya, ketika kamu menyintai seseorang, tentu kamu berusaha untuk bersikap fleksibel, terutama dalam hal mengakomodasi kebutuhan pasangan kita. Tetapi terkadang dalam satu titik kamu harus sering mengalah dari apa yang kamu mau.

Baca Juga: Indra Bekti Digugat Cerai !

Jika pasangan kamu selalu bersikap egois dan leboh mementingkan pendapatnya sendiri serta tak ada kata negosiasi atau kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak, tentu ini menjadi masalah. Tetlebih ada ungkapan-ungkapan bahwa tujuan hidup kalian sudah tak lagi sama.

3. Ketika pekerjaan menjadi prioritas

Dalam pernikahan, pemicu stres eksternal yang umum terjadi adalah masalah-masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, termasuk keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi atau kesulitan keuangan.

Anzab mengatakan, "Stresor eksternal dapat merembet ke dalam kehidupan dan hubungan pribadi kita. Ketika kita merasa tidak didukung, kita merasa ditolak, terisolasi, diabaikan, tidak layak, atau bahkan tidak dicintai."

Perasaan-perasaan tersebut pasti akan menimbulkan ketegangan dan stres pada hubungan kamu, dan jika kamu merasa bahwa pasanganmu lebih memprioritaskan kariernya ketimbang pernikahan, maka bicarakanlah hal ini dengannya dan sampaikan perasaan kamu.

Tapi jika tak ada yang berubah setelah beberapa waktu berlalu, kamu harus melakukan apa yang terbaik untuk kamu dan harga diri kamu.

4. Ketika hubungan terasa toxic

Ini adalah hal yang paling penting, yakni bagaimana cara mengetahui kapan saatnya untuk bercerai?  Ketika kamu mulai merasa tidak bahagia dalam hubungan pernikahan karena salah satu atau kedua pasangan terlibat dalam perilaku yang merusak.

Misalnya, mungkin dia pemabuk, penjudi, dan itu menjadi masalah. Bahkan mungkin kerap berbohong terkait kegiatannya di luar.

"Ingatlah bahwa sangat normal untuk mengakhiri sebuah hubungan jika hubungan tersebut menjadi berat atau toxic bagi kedua belah pihak," pungkas Anzab.

Load More