/
Selasa, 19 September 2023 | 21:13 WIB
Sofia WD (Wikipedia)

Sofia, yang saat itu berada di Yogyakarta untuk syuting film Tiga Dara, mendapat informasi tentang rencana kudeta dari salah satu kontaknya di PKI.

Baca Juga: Cantiknya Ibu dan Nenek Raline Shah yang Berdarah Melayu, Foto Keluarga sang Artis Bikin Heboh hingga Dijuluki Keluarga Good Looking

Ia segera menghubungi Panglima Komando Daerah Militer V/Brawijaya, Mayjen Suharto, yang merupakan temannya sejak zaman perjuangan.

Kemudian memberitahu Soeharto tentang nama-nama jenderal yang akan diculik dan lokasi-lokasi mereka.

Informasi ini sangat membantu Presiden Soeharto untuk mengambil alih kendali militer dan menumpas G30S/PKI.

Atas jasanya ini, Sofia mendapat penghargaan dari pemerintah Indonesia, yaitu Bintang Mahaputra Adipradana.

Ia juga mendapat pengakuan dari dunia internasional, terutama dari Amerika Serikat, yang menganggapnya sebagai salah satu agen intelijen terbaik di Asia Tenggara.

Bahkan sempat diundang ke Gedung Putih oleh Presiden Lyndon B. Johnson pada tahun 1966.

Sayangnya, kehidupan Sofia tidak berlangsung lama. Pada tahun 1967, ia mengalami pendarahan otak akibat penyakit hipertensi yang dideritanya.

Baca Juga: Profil Virly Virginia, Berkarier dari SPG Ponsel, Model, Hingga Bintang Film Dewasa

Ia meninggal dunia pada 17 Januari 1967 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta.

Kemudian dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Sofia WD memiliki banyak talenta dan dedikasi yang tinggi untuk bangsa dan negara. Ia adalah aktris film yang juga agen intelijen.

Sofia WD lahir pada 12 Agustus 1924, Surabaya, Jawa Timur itu merupakan anak bungsu dari pasangan Wongsodikromo dan Siti Aminah.

Pada tahun 1942, saat Jepang menguasai Indonesia, Sofia bergabung dengan organisasi pemuda yang bernama Barisan Pelopor.

Organisasi ini bertujuan untuk melawan penjajahan Jepang dengan cara melakukan gerilya dan sabotase.

Sofia menjadi salah satu anggota inti yang bertanggung jawab atas pengumpulan informasi dan penyusunan rencana operasi.

Salah satu operasi yang dilakukan oleh Sofia dan rekan-rekannya adalah meledakkan jembatan kereta api di daerah Mojokerto pada tahun 1943.

Operasi ini berhasil menghambat jalur transportasi Jepang dan menimbulkan kerugian besar bagi mereka.

Namun, akibat operasi ini, Sofia dan beberapa anggota Barisan Pelopor ditangkap oleh Kempetai (polisi rahasia Jepang) dan disiksa secara brutal.

Sofia berhasil lolos dari penjara dengan bantuan dari seorang tentara Jepang yang bersimpati padanya.

Ia kemudian berpura-pura menjadi tawanan perang Belanda dan dibawa ke kamp tawanan di Batavia (sekarang Jakarta).

Di sana, ia bertemu dengan seorang sutradara film Belanda yang bernama Albert Balink.

Balink tertarik dengan kecantikan dan bakat Sofia, lalu menawarinya untuk bermain dalam filmnya.

Load More