Para pembicara menjelaskan tentang aspek teknis MMS, termasuk perkembangan kebijakan global yang terkini tentang Perubahan IFA menjadi MMS, juga menyampaikan konsensus tentang pemahaman spesifikasisi UNIMMAP dan produksinya.
Rasional ilmiah dan hasil-hasil uji efikasi dan efektivitas MMS, menunjukkan keunggulan MMS terhadap Tablet Tambah Darah (TTD). Selain itu juga disampaikan tentang aspek dan pengalaman dari banyak negara tentang peralihan dari TTD menjadi MMS yang disampaikan secara komprehensif.
Hari kedua lebih banyak fokus pada isu masyarakat dalam skala yang lebih besar yaitu “kelaparan tersembunyi” diantara masyarakat miskin di negara brkembang maupun di negara maju dengan pendekatan berbasis pangan, yaitu fortifikasi pangan dan biofortifikasi.
Fortifikasi makanan adalah suatu teknologi untuk memperkaya makanan dengan vitamin dan mineral tertentu untuk mencegah masalah kekurangan gizi mikro.
Bifortifikasi atau Biological Fortification, merupakan teknologi pengayaan kandungan zat gizi yang nilai pemanfaatan biologisnya dalam tubuh lebih tinggi dari fortifikasi biasa dengan cara teknologi biologi, pemulyaan tanaman konvensional, dan teknologi pertanian lainnya.
Lokakarya ini juga menjadi tempat diskusi tentang fortifikasi pangan yang wajib dan biofortikasi sebagai komponen dari program giizi nasional untuk memperbaiki status gizi kelompok miskin seperti yang terutama diindikasikan oleh penurunan stunting.
Teknologi fortifikasi pangan pertama kali dilakukan di pada tahun 1920 di Amerika dan Swiss, dalam bentuk fortifikasi garam dengan iodium untuk masyarakat miskin yang menderita penyakit kekurangan iodium pada anak dan ibu hamil yang menyebabkan keterlambatan pertumbuhan fisik dan keterbelakangan mental, termasuk kretinism dan stunting.
Sejak saat itu, fortifikasi pangan, terutama makanan pokok, merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari secara global.
Di Indonesia, kewajiban fortifikasi pangan dimulai dengan iodisasi garam pada tahun 1927 oleh pemerintah Hindia Belanda dan dengan Keputusan Presiden pada tahun 1994, pemerintah Indonesia mewajibkan fortifikasi garam dengan iodium, kemudian fortifikasi wajib tepung terigu dengan zat besi dan beberapa vitamin dan mineral lainnya pada tahun 2001, serta fortifikasi sukarela minyak goreng sawit dengan vitamin A pada tahun 2010.
Baca Juga: Asupan Gizi Seimbang Turunkan Risiko Penyakit Tidak Menular Selama Pandemi
Sayangnya, fortifikasi pangan belum menjadi prioritas program gizi di Indonesia. Dunia internasional mempertanyakan peran fortifikasi selama pandemi dan sebagai intervensi gizi spesifik untuk menurunkan stunting.
Dunia telah menyepakati bahwa fortifikasi pangan yang wajib (mandatory) telah terbukti secara global sebagai suatu terobosan dengan upaya yang kecil dalam mencegah defisiensi gizi mikro, terutama untuk masyarakat miskin.
Bank Dunia pada tahun 2006 menyatakan bahwa fortifikasi pangan merupakan intervensi gizi spesifik yang paling cost-effective dalam mengatasi masalah gizi mikro.
Sementara hari Kedua, pembicara diantaranya adalah tiga Penerima Penghargaan Pangan Dunia (World Food Prize Laureate), yakni David Nabarro, Utusan Khusus WHO Director General on Covid-19, dan Advisory Committee Member of the UN Food System Summit yang juga adalah Pemegang World Food Prize Laurate 2018 yang menjelaskan tentang SDGs, Sistem Pangan, juga pentingnya asupan gizi yang baik pada periode 1000 hari pertama kehidupan terutama selama masa pandemi COVID-19.
Pembicara selanjutnya, Howarth Bouis, pemegang World Food Prize Laureates 2016, dan pendiri serta mantan Direktur HarvestPlus Washington,menjelaskan tentang teknologi biofortifikasi, sebagai pembuka jalan untuk pengembangan tanaman pangan biofortifikasi yang benar-benar mendukung pentingnya makanan pokok, yang tidak hanya kaya akan karbohidrat seperti yang ada sekarang, tetapi juga menjadi kaya akan aneka ragam vitamin dan mineral.
Meskipun pola makanan tidak beragam, karena ketidak mampuan daya beli, pangan biofortifikasi juga mengandung vitamin dan mineral yang cukup memadai, dan mampu mengurangi bahaya kurang gizi. Howarth menjelaskan tentang peran biofortifikasi makanan pokok dalam meningkatkan nilai gizi pangan.
Kemudian Direktur Eksekutif GAIN, Co-chair Global Nutrition Report dan Pemegang World Food Prize Laureates 2018, Lawrence Haddad, memaparkan tentang mengapa fortifikasi makanan merupakan sebuah intervensi gizi yang tidak perlu disesali, karena perannya yang besar, khususnya dalam masa pandemi Covid-19.
Direktur Gizi dari Harvestplus Washington, Erick Boy, memberikan penjelasan tentang dasar riset gizi, bukti bagi biofortifikasi makanan pokok.
Selain itu, lokakarya ini juga menghadirkan Venkatesh Mannar yang merupakan pencetus beberapa inisiatif gizi internasional yang efektif, teknologi dan pengembangan yang difokuskan pada warga negara dunia yang paling rentan, dan juga mantan Presiden Micronutrient Initiative Canada.
Venkatesh menjelaskan tentang peningkatan fortifikasi garam dengan zat besi dan iodium sebagai solusi kekurangan zat besi yang menyebabkan anemia secara berkelanjutan. Presentasi tersebut juga diikuti presentasi dari Andreas Bluethner, Direktur Gizi Bill and Melinda Gates Foundation yang menjelaskan tentang peranan pilantropi pada program fortifikasi pangan dunia.
Berita Terkait
-
Asupan Gizi Seimbang Turunkan Risiko Penyakit Tidak Menular Selama Pandemi
-
Sebulan Lagi Puasa Ramadan, Ini Saran Ahli Gizi Agar Nutrisi Terpenuhi
-
Mau Anak Tumbuh Tinggi? Dokter Sarankan Jaga Kualitas Tidur Malamnya
-
Ahli GIzi Ungkap Sederet Efek Samping dari Diet Tya Ariestya
-
Catat, Beragam Ciri-ciri Lansia Mengalami Kekurangan Gizi
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Satgas Galapana DPR RI ke Ruteng, Kumpulkan Menteri hingga Bos BUMN untuk Tangani Korban Gempa
-
Bangunan Dapur MBG di Muara Enim Jadi Sasaran Maling, Motor dan Ponsel Raib
-
Pasar Murah HUT RI Digelar di 5 Kecamatan Palembang, Ada Diskon Belanja Rp10 Ribu
-
Kado Anniversary Sempat Bikin Mahalini Kesal, Rizky Febian Bongkar Rencana Rahasianya
-
Apakah Serum Vitamin C Boleh Dipakai Malam Hari? Ini Waktu Terbaik Agar Glowing Maksimal
-
Review Skintific 2% Salicylic Acid, Serum Ampuh Bikin Jerawat Meradang Langsung Kempes
-
73 Hotspot Terpantau di Kalsel, Kemenhut Dorong Verifikasi Dini Karhutla
-
Apresiasi Pidato Prabowo, Jubir PSI: Pertumbuhan Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
-
Pengamat Kejaksaan: Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Anggota Tim 9
-
Review Unerd Beat Tempo, Sepatu Lari Rp500 Ribuan Cocok Buat Interval dan Tempo Run