Suara.com - Investasi di bidang baja pada 2021 mencatat angka US$ 12 miliar dan diperkirakan akan mengalami peningkatan di 2022. Hal itu disampaikan Ketua Klaster Flat Product, Melati Sarnita, yang mengutip data dari Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) atau Asosiasi Baja Indonesia, dalam acara virtual.
Data dari IISIA pun mendapat tanggapan dari ekonom Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Surya Vandiantara. "Data positif investasi sektor baja ini menunjukan sebuah keberhasilan kebijakan pengendalian impor dengan subtitusi impor terukur yang dilakukan oleh Pemerintah," kata Surya, melalui keterangan tertulis.
Surya Vandiantara mengatakan, kinerja investasi di sektor logam dan baja sangat menjanjikan meski dalam kondisi pandemi. Menurutnya, dorongan investasi sektor baja dilatar belakangi oleh permintaan baja nasional dan ekspor yang terus meningkat terutama di sektor baja hilir.
"Dari data investasi di sektor logam dan baja tumbuh terus tiap tahunnya di mana pada 2020 sebesar Rp 94,85 triliun dan 2021 mencapai di atas Rp 114 triliun. Hal ini memberikan konsrkuensi pemenuhan bahan baku, namun yang disuplai dari industri hulu baja terutama baja karbon dari dalam negeri jauh dari harapan," imbuh Surya.
Menurut Surya, untuk menjaga iklim investasi bahan baku ini harus dipenuhi dengan impor. Ia kemudian menegaskan bahwa pertumbuhan investasi di sektor baja sama sekali tidak terpengaruh dengan narasi banjir impor yang sering muncul.
Sementara pemerhati perumahan dari Alumni Fakultas Teknik UI, Cindar Hari Prabowo menyampaikan data BPS tentang data baja impor tanpa pengendalian pemerintah (tanpa lartas) seperti slab, bilet dan iron ore mengalami peningkatan dari 2019 sebesar 4,7 juta ton menjadi 5,22 juta ton di 2021.
"Artinya, investasi yang ada di sektor hulu baja karbon saat ini bahan bakunya juga dipenuhi dari impor. Bukan mengolah dari dalam negeri karena hambatan teknis dan ekonomis," imbuhnya.
"Pengendalian yang dilakukan Pemerintah (dengan lartas) pada 2019 sebesar 7,89 juta ton berhasil dikendalikan sebesar 6,35 juta ton atau turun 19 persen meskipun industri baja dikatagorikan import processing industry," kata Cindar menambahkan.
Menurut Surya, persoalan kemajuan di Hilir baja lebih cepat dibanding dengan kemampuan suplai dari hulu baja, ini menjadi tugas besar dalam mendukung investasi baja nasional.
Baca Juga: Baja Impor Berdampak Negatif pada Iklim Investasi Indonesia, Kenapa Masih Dilakukan?
"Satu sisi Pemerintah melakukan rem pada baja yang di lartas, sisi yang lain bahan baku yang diproses oleh industri hulu baja karbon terjadi pengegasan impor bahan baku guna memenuhi kebutuhan industri baja hilir. Jadi rem dan gas ini tidak harmonis karena kekurangan kemampuan di industri hulu baja nasional," imbuh Surya.
Berita Terkait
-
Kesempatan Beli, Harga Emas Antam Turun Tipis Jadi Rp2.633.000/Gram
-
Tahan Beli, Harga Emas Antam Melonjak Jadi Rp2.635.000 per Gram Hari Ini
-
Harga Emas Antam Logam Mulia Terbaru 14 Juli 2026: dari 0,5 Gram hingga 1.000 Gram
-
Harga Emas Antam Berbalik Naik ke Rp2,655 Juta per Gram, Buyback Ikut Menguat
-
Kejagung Bongkar Akal-Akalan Ekspor Logam Tanah Jarang, Dua Pengiriman Diduga Sudah Lolos
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
IHSG Nyaman di Level 6.000, Saham WIFI Melesat
-
7 Jenis Sabun Muka Cetaphil Sesuai Kebutuhan Kulit, Jangan Salah Pilih!
-
Usai Rumahnya Digeledah, Anggota BPK Bobby Adhityo Diperiksa KPK
-
Serang Balik! dr Tifa Sebut Jokowi Tak Pernah Ngaku Lulusan UGM Sebelum Kasus Ijazah Palsu
-
Penelitian Baru Ungkap Akar Budaya Toalean di Sulawesi Selatan
-
Review The Oddysey: Saat Nolan Mengubah Mitologi Jadi Potret Trauma Manusia
-
Aset Melonjak Jadi Rp2.250 Triliun, Fundamental BRI Kian Kokoh
-
Bukan Hanya Soal Ijazah Ditahan, Penasihat Presiden Bongkar Masalah Gaji di 5asec Saat Sidak
-
Dody Hanggodo Jadi Sorotan: Koleksi Kendaraannya Jauh Lebih Mewah dan Baru Dibanding "Pak Bas"
-
Film Taste of Prison Rilis Potret Perdana, Chemistry Pemain Jadi Sorotan