Suara.com - Di tengah ramainya kasus kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT yang terjadi baru-baru ini, Itha G. Schneider, seorang wanita mantan korban KDRT merilis buku berjudul "Itha".
Melalui buku yang mengambil judul dari nama panggilannya ini, Itha menceritakan lika-liku perjalanannya sebagai seorang istri yang kerap mendapatkan perlakukan kasar dari mantan suami yang kasar dan manipulatif.
Dalam buku ini, Itha juga menceritakan pergulatan batin sebagai seorang perempuan yang terpaksa bertahan dalam rumah tangga yang toksik demi anak, hingga pada akhirnya ia mampu mengambil keputusan untuk bercerai.
"Pergulatan batin saya, sempat berpikir apakah yang dilakukan suami itu karena salah saya. Sempat gagal, try again, hampir give up, akhirnya rujuk demi anak, namun setelah rujuk, perlakuan dia justru semakin kasar," tutur Itha, saat peluncuran buku di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, Sabtu (14/1).
Beragam bentuk kekerasan pernah ia alami saat mengarungi bahtera rumah tangga bersama mantan suaminya, mulai dari ditodong pisau hingga dipukul di bagian pelipis mata saat hamil anak kedua. Tak hanya itu, kekerasan ekonomi juga dialami Itha, lantaran tak menerima nafkah dari suami dan harus berjuang sendiri dengan berjualan untuk menghidupi keluarga.
"Saya pernah dipukul di bagian pelipis mata saya. Saat saya hamil anak kedua dan menggendong anak pertama saya, saya juga pernah ditodong pisau dan diancam dikeluarkan isi perut saya. Pernah tiba-tiba ada yang datang ke saya, mengaku dihamili suami saya. Datang ke saya, nagih utang karena suami saya kalah main judi," pungkasnya.
Tak hanya mengisahkan penderitaan yang ia alami. Wanita yang kini menetap di New York itu juga menceritakan tentang bagaimana ia berjuang untuk bangkit dari trauma KDRT dan stigma negatif status janda usai bercerai, hingga memantapkan diri untuk hijrah ke negeri Paman Sam.
Ketika Itha megambil keputusan pindah ke New York pada 1997, kariernya dimulai dari nol. Itha pernah bekerja sebagai pegawai Dunkin Donuts, karyawan di sebuah perusahaan perhiasan, hingga meniti karier di bisnis properti sebagai seorang pengusaha real estate di Amerika Serikat.
Buku ini juga mengisahkan romantika Itha yang berhasil melawan trauma masa lalu dan mengantarkannya bertemu dengan tambatan hatinya, Fred Schneider hingga keduanya resmi menikah pada 2001.
Baca Juga: Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Karawang Meningkat Sepanjang 2022, Dinas Bilang Begini
Itha berharap, melalui buku yang ia tulis, kisahnya bisa menjadi inspirasi dan kekuatan bagi korban KDRT dimanapun berada. Ia berharap, semua korban KDRT, khususnya kaum perempuan berani bersuara dan meraih mimpi.
"Buku ini ditulis untuk wanita-wanita korban KDRT yang diam, wanita-wanita yang tak berani speak up. Kalian harus berani ambil keputusan. Jangan takut bersuara!" tegas Itha.
Tag
Berita Terkait
-
Ferry Irawan Minta Dirinya Tidak Dihujat: Negara Kita Negara Hukum Bukan Negara yang Mencemooh Orang
-
Usai Diselingkuhi, Alvin Faiz Ngaku jadi Korban KDRT Larissa Chou: Perut, Muka, Kena Semuanya
-
Pasang Badan untuk Venna Melinda yang jadi Korban KDRT, Verrell Bramasta: 'Siapa aja bisa berantem, gampang'
-
Venna Melinda jadi Korban KDRT, Mantan Suami Minta Verrel Bramasta Lakukan Hal Ini
-
Jangan Sampai Ada Korban KDRT seperti Venna Melinda Lagi, Psikolog Sebut Cara Ini Penting untuk Jaga Kestabilan Emosi
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
BEM Persatuan se-DKI Ajak AMPB Jaga Ruang Demokrasi Jelang Aksi di DPR
-
Situasi Terbaru Bukit Serelo Lahat Terbakar, Karhutla Diperkirakan Capai 350 Hektar
-
Program KPR Renovasi BRI, Ketentuan Suku Bunga Ringan dan Tenor Panjang
-
Dari Kebab ke QRIS, Cerita Farhan Kebab Tumbuh Bersama Bank Sumsel Babel
-
Amnesty International Soroti Kemunduran Demokrasi: Banyak Partai, tapi Suaranya Satu
-
Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi, Pemerintah Dorong Pemanfaatannya Lebih Cepat
-
Katarak Kongenital pada Anak dan Pentingnya Deteksi Sejak Dini
-
Semarak Turnamen Bulu Tangkis di Mall Solo, 219 Peserta Ikut Bertanding
-
Komunikasi Politik Prabowo Dinilai Kerap Blunder, Akademisi: Bisa Rugikan Pemerintah
-
PTBA Hadir untuk NTT, Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak Bencana