Selasa, 08 Agustus 2023 | 18:55 WIB
Ilustrasi pemeriksaan Prostate Health Index. (Dok: Istimewa)

Prof. Dr. dr. Tonny Loho, DMM, SpPK(K), Spesialis Patologi Klinik RS Grha Kedoya menjelaskan, dari sisi laboratorium, pemeriksaan PHI tetap menggunakan hasil PSA Total, free PSA, dan satu isoform baru dari PSA, yaitu [-2] proPSA atau dikenal dengan p2PSA, dimana ketiganya dikombinasikan dalam suatu formula baru untuk menghasilkan skor tunggal yang dapat digunakan sebagai bantuan dalam penentuan keputusan klinis.

“Rumus dari PHI ini adalah ([-2]proPSA/freePSA)x PSA. Pria dengan hasil PSA total dan p2PSA tinggi, serta hasil free PSA rendah akan cenderung memiliki risiko kanker prostat lebih besar," ujarnya.

“Pemeriksaan p2PSA tidak memerlukan persiapan pasien khusus namun sangat direkomendasikan dilakukan sebelum adanya manipulasi prostat seperti pemeriksaan rektal digital (digital rectal examination), pijat prostat, transrectal ultrasound (TRUS), biopsi prostat, dan juga biopsi jarum transrektal," tambah Prof. Tonny.

Hal ini dikarenakan, manipulasi prostat dapat menyebabkan peningkatan sementara dari kadar p2PSA, freePSA, dan PSA total. Pasien membutuhkan periode tunggu 6 minggu sejak dilakukan manipulasi prostat sampai pengambilan sampel p2PSA. Sampel yang digunakan berupa darah serum dengan volume minimal 3.5 mL.

Pemeriksaan p2PSA tidak dapat berdiri sendiri dalam manajemen pasien, konsentrasi PSA total, freePSA, dan p2PSA harus diperiksa secara bersamaan dari serum yang sama untuk menghasilkan skor Prostate Health Index yang secara otomatis dihitung oleh sistem Immunoassay. Semakin besar angka PHI semakin tinggi risiko pasien terkena kanker prostat.

“PHI dapat menjadi pilihan bagi pasien, karena bersifat non-invasif dan memiliki spesifisitas lebih baik dalam mendeteksi adanya kanker prostat. Deteksi lebih dini dan lebih akurat membuat Tatalaksana pasien juga akan lebih terarah dan memberikan hasil yang lebih baik," tutur dr. Henry.

Load More