Sabtu, 11 November 2023 | 22:16 WIB
Ilustrasi ketahanan pangan dan Perubahan Iklim. (Freepik.com/vhotomax)

Suara.com - Ketahanan pangan berhubungan erat dengan kemampuan negara dan masyarakat untuk menyediakan pangan yang cukup, aman, dan bergizi bagi seluruh penduduknya. Ini melibatkan aspek-aspek seperti produksi pangan, distribusi, akses, dan konsumsi pangan yang sehat dan bergizi.

Sustainable Development Goal (SDG) yang berkaitan dengan ketahanan pangan adalah SDG Nomor 2, yaitu "Zero Hunger" atau "Bebas Kelaparan". Target utama dari SDG ini adalah untuk mencapai keamanan pangan, meningkatkan gizi, dan meningkatkan produktivitas pertanian. Untuk mencapai tujuan bebas kelaparan, generasi muda perlu terlibat demi mempersiapkan diri untuk masa depan.

Peran generasi muda sangat penting dalam mencapai target SDGs nol kelaparan dan memastikan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Beberapa alasannya antara lain:

Inovasi dan Teknologi

Generasi muda seringkali lebih terhubung dengan perkembangan teknologi dan inovasi. Mereka dapat memainkan peran kunci dalam menerapkan teknologi pertanian terkini, seperti pertanian vertikal, sensorisasi, dan pemantauan cuaca secara digital, untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian.

Kewirausahaan Pertanian

Generasi muda dapat diilhami untuk terlibat dalam kewirausahaan pertanian. Mereka dapat membentuk start-up pertanian, mempraktikkan pertanian perkotaan, atau terlibat dalam bisnis agroteknologi untuk meningkatkan produksi pangan secara berkelanjutan.

Pendidikan dan Kesadaran

Generasi muda memiliki akses lebih baik terhadap pendidikan. Mereka dapat memainkan peran dalam meningkatkan kesadaran tentang praktik pertanian berkelanjutan, mempromosikan pola makan sehat, dan mendukung diversifikasi sumber pangan.

Baca Juga: Tantangan dan Peluang dalam Menangani Ketergantungan pada Impor Pangan dan Meningkatkan Produksi Pangan Lokal

Inilah yang menjadi alasan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional memberikan Penghargaan Aksi SDG Indonesia 2023 dalam kategori Filantropi kepada Yayasan Bakti Barito. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Menteri Suharso Monoarfa dalam rangkaian acara Konferensi Tahunan SDG.

Program unggulan Yayasan Bakti Barito, Bakti Pangan Lestari, memperoleh penghargaan karena kontribusinya dalam bidang pendidikan yang memberdayakan petani dan keluarga mereka untuk membangun ketahanan terhadap perubahan iklim dan memperkuat ketahanan pangan.

Program Bakti Pangan Lestari, yang dirancang sebagai program jangka panjang selama lima tahun, fokus pada pembangunan ketahanan iklim dan ketahanan pangan di kalangan petani dan generasi petani muda. Dalam upaya meningkatkan mata pencaharian petani, Yayasan Bakti Barito meluncurkan serangkaian pelatihan berbasis keterampilan intensif dan memberikan dukungan untuk memperkuat ketahanan pangan.

Tujuan utama program ini adalah mengajarkan teknik pertanian tepat guna yang memberdayakan petani, mendukung inovasi untuk adaptasi iklim, dan memberikan akses petani ke sumber daya yang mereka butuhkan untuk memperkuat sistem pangan mereka. Program ini tidak hanya berfokus pada aspek pertanian, tetapi juga melibatkan pembuatan kurikulum Usaha Pertanian Terpadu (UPT) yang telah disetujui oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Beberapa mitra yang turut berkontribusi dalam program Bakti Pangan Lestari, dengan fokus pada mencapai SDG 2 (nol kelaparan), antara lain The Learning Farm, Joglo Tani, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, dan Konsorsium Bisnis Republik Indonesia yang Peduli Pendidikan Kejuruan.

Dian A. Purbasari, Direktur Yayasan Bakti Barito, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun ketahanan terhadap perubahan iklim. Karena itu, perlu ada peningkatan akses ke pendidikan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk membangun ketahanan pangan terhadap perubahan iklim.

Load More