JAKARTA – Pemerintah baru menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Harga Pertalite yang semula Rp 7.650 mengalami kenaikan sebesar Rp 10.000 ribu per liter. Kenaikan juga terjadi pada harga Solar subsidi yang semula Rp 5.150 naik menjadi Rp 6.800 per liter.
BBM bersubsidi sebenarnya sudah ada sejak era Presiden Soekarno. Sejak saat itu harganya selalu berubah mengikuti perkembangan. Sehingga kenaikan harga BBM bersubsidi pun dianggap bukan hal baru.
Data jurnal The Habibie Center menyebutkan, hampir semua presiden melakukan penyesuaian harga BBM. Beberapa di antaranya penyesuaian dengan cara menaikkan harga, tak jarang juga melakukan penyesuai harga dengan cara penurunan harga.
Tak hanya di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), sejak zaman Presiden Soekarno pun harga BBM subsidi beberapa kali mengalami kenaikan.
Berdasarkan data Kementerian ESDM dan Pertamina yang dikutip dari The Habibie Center, penyesuaian harga BBM pertamankali dilakukan pada tahun 1965 dan 1966. Tepatnya di era Presiden Soekarno.
Namun dari beberapa presiden yang pernah menjabat, rupanya terdapat presiden yang tak pernah menaikan harga BBM bersubsidi. Siapakah dia? Inilah jejak kenaikan harga BBM dari masa ke masa yang dilansir dari Detik.com:
1. Era Presiden Soekarno
Saat itu, tepatnya pada tanggal 22 November 1965, harga BBM jenis Premium ditetapkan sebesar Rp 0,30 per liter. Sementara harga Solar ditetapkan sebesar Rp 0,20 per liter.
Namun pada 3 Januari 1966, terjadi perubahan harga BBM. Saat itu harga Premium mengalami kenaikan menjadi Rp 1/liter. Sementara untuk Solar naik menjadi Rp 0,80 per liter.
Baca Juga: Rekap Final Japan Open 2022: Tuan Rumah Bawa Dua Gelar, China Satu
Namun hanya selang beberapa hari, Presiden Soekarno memutuskan Kembali menurunkan harga BBM. Tepatnya pada 27 Januari 1966. Harga Premium turun menjadi Rp 0,50/liter, dan harga Solar turun menjadi Rp 0,40/liter.
2. Era Presiden Soeharto
Pada masa presiden kedua Republik Indonesia ini, penyesuaian harga BBM tercatat sebanyak 21 kali. Pada awal masa jabatan Presiden Soeharto, tepatnya pada tahun 1967, harga Premium ditetapkan sebesar Rp 4 per liter. Namun di penghujung masa jabatannya, tepatnya pada tahun 1998, harga Premium menjadi Rp 1.000/liter.
Sementara harga Solar di awal masa jabatan Presiden Soeharto, tepatnya pada tahun 1967, ditetapkan sebesar sebesar Rp 3,5 per liter. Hingga di akhir masa jabatannya, pada tahun 1998, harga Solar berubah menjadi Rp 550 per liter.
Pada masa Presiden Soeharto ini, kenaikan harga BBM terjadi dalam kurun waktu yang sangat variative. Terkadang 1 tahun sekali, 3 tahun sekali, bahkan pernah selama 5 tahun di zaman orde baru ini, harga BBM tidak pernah naik.
Tak hanya mengalami kenaikan, harga BBM di era Soeharto ini tercatat pernah mengalami penurunan. Tepatnya pada tahun 1998. Saat itu harga BBM jenis Premium yang melonjak ke level Rp1.200/liter Kembali turun menjadi Rp1.000 per liter.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
Terkini
-
Gugat Aturan Gelar Pahlawan Nasional ke MK, Trah Sultan HB II Bongkar Dugaan Penjegalan
-
Warga Sleman Mengeluh Mati Listrik Tiap Hari, PLN Buka Suara dan Beberkan Penyebabnya
-
Sambut HJB ke-544, Jurnalis Se-Bogor Raya Siap Adu Taktik di Lapangan Hijau Sentul
-
Bawa Pesan Khusus dari Prabowo untuk Jokowi? Ini Fakta Pertemuan Didit Hediprasetyo di Solo
-
Nenek 80 Tahun di Sedayu Bantul Tewas Tercebur Sumur Saat Menimba Air
-
Pramono Siapkan 500 Ondel-Ondel Karya Desainer Top untuk Rayakan 5 Abad Jakarta
-
Niat Cari Untung Malah Buntung: Air Ciujung Tercemar, Modal Obat Padi Bengkak Dua Kali Lipat
-
Tolak Militerisasi Sipil hingga Kenaikan BBM, Mahasiswa Kepung DPRD Jatim Kritik Kebijakan Prabowo
-
Migrasi Pertamax ke Pertalite Mulai Terjadi di Jogja, Pasokan BBM Subsidi Ditambah 18 Persen
-
Irma Suryani: Program MBG Bisa Jadi Mudarat Jika Salah Sasaran dan Tak Dikelola Profesional