/
Minggu, 02 Oktober 2022 | 14:14 WIB
Arema FC - Kerusuhan Kanjuruhan (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

PURWASUKA - Penyebab kematian para penonton saat Tragedi Kanjuruhan usai laga Arema FC vs Persebaya Liga I BRI 2022/2023 di Stadion Kanjuruhan, Jatim, Sabtu (1/10/2022) dipicu oleh tiga penyebab utama.

Hal itu dikatakan oleh Direktur RSUD Kanjuruhan dr. Bobi Prabowo pada 2 Oktober 2022 saat live di TVone.

Diketahui, tragedi kanjuruhan ini menewaskan 130 orang penonton. Rata-rata korban tewas yang dibawa ke RSUD Kanjuran mengalami trauma benturan di kepala, dada, tangan dan kaki.

“Kemungkinan karena terinjak-injak saat panik dan berusaha ke luar stadion,” kata dr Bobi saat live kepada TVone.

Selain trauma, para korban tewas mengalami hipoksia, sesak nafas atau kekurang oksigen. Hal ini diperkirakan karena dipicu gas air mata yang ditembakan pihak kepolisian. Padahal penggunaan gas air mata dilarang oleh FIFA.

Selain itu, kondisi para pasien dan korban tewas mengalami iritasi pada mata yang juga diduga dipicu gas air mata.

“Kematian akibat sesak nafas hipoksia karena kondisi tubuh kekurangan oksigen. Juga mata pasien korban merah iritasi kemungkinan karena gas air mata. Sebagian masih dirawat intensif. Kita berikan pelayanan terbaik,” pungkasnya.

Seperti diketahui, laga Arema FC vs Persebaya berujung kerusuhan. Sebanyak 130 penonton tewas, 2 orang di antaranya anggota polisi. Sejumlah fasilitas stadion rusak dan 13 kendaraan polisi rusak dan dibakar.***

Baca Juga: Gara-Gara Gas Air Mata: Sepelekan Aturan FIFA, Suporter Jadi Korban Jiwa

Load More