/
Sabtu, 29 Oktober 2022 | 09:48 WIB
Potret Menko Polhukam, Mahfud MD saat memberikan keterangan. (Istimewa)

PURWASUKA - Aksi Siti Elina (24), wanita bercadar yang nekat mencoba menerobos Istana Negara dan menodongkan senjata api ke Paspampres membuktikan masih adanya paham radikal di Tanah Air.

Hal ini diungkap Menko Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam), Mahfud Md. Menurutnya, aksi Siti Elina tersebut bukti bahwa paham radikal belum lenyap dari Indonesia.

"Bahwa kemarin ada seorang perempuan yang menerobos Istana negara dengan membawa pistol FN, Itu sebagai bukti bahwa radikalisme itu masih ada," ujarnya di Jember pada Jumat (28/10/2022).

Oleh karena itu, dia mendorong adanya penguatan ideologi Pancasila di kalangan pelajar dan mahasiswa serta semual elemen masyarakat. 

"Maka dimulai dari berbagai lembaga pendidikan dan juga di rumah. Bahwa negara ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kepada kita kesempatan untuk maju seperti sekarang," katanya.

"Nilai dasarnya adalah Pancasila sebagai kesepakatan bersama. Kalau dalam bahasa agama itu Pancasila itu janji suci untuk hidup bersama. Itu nilai dasarnya," tambah Mahfud Md melansir dari PMJNews.com.

Selain itu, Mahfud menambahkan perlu secara kontinu digalakkan kampanye bahwa negara Indonesia dengan dasar Pancasila merupakan kesepakatan yang utuh. 

Sebelumnya, pada Selasa (24/10/2022) Siti ELina nekat melakukan aksinya tersebut di area sekitar Istana Negara. Atas perbuatannya tersebut, kini pelaku telah diamakan polisi.

Densus 88 Antiteror Polri masih mendalami pernyataan wanita yang mencoba menerobos Istana dengan menodongkan pistol ke Paspampres berinisial SE (24). 

Baca Juga: Akademisi UI: Siapa Bilang Menipis, Stok Beras Nasional Justru Melimpah

Salah satunya soal dugaan keterkaitan dengan jaringan teroris.

"Tindakan SE tidak terkait jaringan mana pun. Sementara ini diindikasikan aksi tersebut adalah perorangan," katanya.

Load More