PURWASUKA - Gempa berkekuatan 5,6 Magnitudo guncang Kabupaten Cianjur, gempa kategori dangkal dengan daya rusak tinggi sudah mengancurkan ribuan rumah warga, ratusan jiwa melayang dan ratusan korban luka.
Kabupaten Purwakarta merupakan daerah tetangga yang sangat dekat dengan Kabupaten Cianjur ikut merasakan guncangan. Namun tidak ada korban akibat guncangan itu termasuk bendungan Jatiluhur.
Bendungan Ir. H. Djuanda Jatiluhur adalah salah satu objek vital nasional yang ada di Kabupaten Purwakarta, bendungan itu berdiri kokoh dengan jarak kurang lebih sekitar 50 Kilometer dari pusat gempa Di Cianjur.
Perum Jasa Tirta II (PJT II) selalu pengelola Bendungan itu memastikan jika bendungan sebagai sumber air di wilayah Ibu Kota itu, aman dan tidak terdampak gempa Cianjur.
"Dengan adanya gempa di Cianjur 5,6 SK itu, sudah kita pantau, untuk mengetahui terdampak tidak tentunya ada standar prosedur yang kita milik, yang pertama ada melihat secara visual dan kedua adalah melihat bacaan yang ada pada instrumen tubuh bendungan, Alhamdulillah Dari seluruh pemantau yang kita lakukan baik secara visual atau bacaan secara instrumen, tidak ada dampak secara teknis yang dapat mempengaruhi atau membahayakan bendungan Ir haji Djuanda," ujar Direktur Operasional Dan Pemeliharaan PJT II, Anton Mardiyono, Kamis (24/11/2022).
Dijelaskannya, alasannya kenapa Bendungan Jatiluhur aman terhadap guncangan gempa Cianjur, dalam pembangunannya pada tahun 1957 sampai dengan diresmikannya tahun 1967, pemerintah sudah konsen terhadap kondisi wilayah di Jawa barat, berbagai kemungkinan akan terjadi termasuk ancaman gempa bumi sudah diperhitungkan, sehingga pemerintah membangun bendungan Jatiluhur ini dengan tipe urugan yang fleksibel terhadap guncangan.
"Secara kontruksi memang bendungan kita ini adalah bendungan tipe urugan, dimana tipe bendungan ini memiliki salah satu kelebihan atau keunggulan desain gempa yang lebih besar, dibanding dengan tipe bendungan yang lain, dan dari desain gempa yang ada sebesar 0,15 g, ini masih sangat jauh kekuatannya, kita bisa asumsikan kekuatan dibanding dengan kekuatan daya rusak gempa yang tercatat akselerograp kita yang ditimbulkan dari gempa di cianjur kemarin, masih sangat jauh rasionya dan bacaan dari instrumen kita itu sangat terpantau dengan aman," Ungkap Anton.
Gempa Cianjur terjadi dengan kekuatan 5,6 Magnitudo atau jika di hitung secara akselofograpf atau alat ukur gempa itu, nilai puncak akselerasi gempa pada sumbu X sebesar 0,004448, pada sumbu Y sebesar 0,00252 g dan pada sumbu Z sebesar -0,001276 g, sedangkan bendungan Jatiluhur mampu menahan guncangan gempa sebesar 0,15 g.
"Artinya itu merupakan salah satu parameter kekutaan terhadap gempa yang jadi suatu desain dan kita terjemahkan dalam suatu desain teknis suatu bendungan, baik dari dimensi pondasi maupun dari komposisi materialnya , bendungan Jatiluhur ini kebetulan pemerintah sudag sangat konsen pada saat itu bahwa memang di Jawa barat ini ada beberapa resiko terjadi gempa, sehingga pemerintah sudah mendesain bendungan kita ini menjadi suatu bendungan tipe urugan yang cukup bisa mengakomodatif terjadinya gempa," Ungkapnya.
Baca Juga: Cinta Bertepuk Sebelah Tangan PKB ke Gerindra, Cerai Tak Mau Meski Ngotot Nomor Satu
Anton menyebut, pihaknya selalu pengelola memiliki standar operasional yang wajib dilakukan untuk merawat agar operasinal bendungan terus berjalan dengan baik, karena diketahui bendungan ini memiliki fungsi pengairan areal pertanian dan pesawahan di wilayah Karawang, Bekasi, Indramayu. Kemudian sebagai pembangkit listrik, bahan Air Baku untuk wilayah Jakarta dan sebagai sumber air bagi masyarakat di daerah aliran sungai.
"Bendungan Juanda salah satu objek vital nasional tentunya sudah dilengkapi instrumen dan standar prosedur yang harus kami patuhi dan lakukan, baik secara berkala atau kondisional, dimana kondisional itu apabila terjadi suatu gempa yang lebih sering terjadi sehingga kita harus melakukan tambahan, untuk bisa mengantisipasi agar bendungan tetap berjalan baik tentunya pemantauan dan operasi bendungan harus melalui SOP maupun ketentuan teknis yang ada, karena harus dijalankan oleh kami selalu unit pengelola bendungan," tutur Anton.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Prabowo: Orang Pintar Kita Banyak, Harus Dicari, Dibina dan Diberi Kesempatan
-
Kiprah Norman Joesoef, Sosok Kunci Kerja Sama Drone Baykar dan Rudal BrahMos dengan Indonesia
-
Bulan Terbaik untuk Liburan ke Bali, Kapan Waktu yang Paling Ideal?
-
5 Coffee Shop 24 jam untuk Kamu yang Bosan Nugas di Kos
-
Bcrobes Dorong Riset Berbasis Mikrobioma, Ungkap Potensi Probiotik dalam Mendukung Terapi Jerawat
-
Api Mengamuk di Galangan Kapal Karangsong, 5 Mobil Damkar Dikerahkan
-
Bisa Deteksi Makanan Busuk di Ompreng, Ini Inovasi BRIN untuk MBG yang Bikin Prabowo Kepincut
-
Keracunan MBG Marak Lagi, Bisakah Pengelola dan Pejabat Dipidanakan?
-
8 Wakil Indonesia Jadi Unggulan di Kejuaraan Dunia BWF 2026, Bawa Misi Akhiri Puasa Gelar
-
3 Perempuan Malaysia Selundupkan Narkoba di Bandara Soetta, Disimpan di Sepatu