/
Kamis, 12 Januari 2023 | 13:00 WIB
Ilustrasi mainan lato-lato. (Instagram.com/@produksimainan.id)

PURWASUKA - Koentjoro, psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menanggapi terkait permainan lato-lato yang saat ini banyak diminati anak-anak.

Khususnya terkait lato-lato yang mulai banyak memakan korban hingga beberapa sekolah di Indonesia mulai melarang permainan tersebut. 

Menurut Koentjoro,  ada sisi positif yang perlu dipahami oleh masyarakat terkait permainan lato-lato bagi anak-anak. Salah satunya, permainan tersebut dapat mengurangi ketergantungan anak dalam bermain gawai. 

“Segi positifnya ketergantungan anak pada handphone (HP) jadi berkurang. Dulunya waktu untuk main HP sekarang ke lato-lato,” kata Koentjoro dilansir PURWASUKA dari laman UGM diunggah Selasa, 10 Januari 2023. 

Selain itu kata Koentjoro, permainan lato-lato pun dapat melatih konsentrasi, ketangkasan fisik, kepercayaan diri, sosialisasi dan dampak positif lainnya. 

Belum lagi permainan ini bisa menjadi sarana anak-anak untuk berolah raga, belajar konsentrasi secara murah. 

Larangan Bukan Solusi
Adapun terkait lato-lato yang dikabarkan banyak melukai anak-anak ketika memainkannya jelas dia, ia mengimbau agar orang tua hadir untuk mengawasinya. 

Kehadiran orang tua dinilai menjadi sangat penting untuk mengawasi anak-anak, termasuk memberikan pemahaman terkait permainan lato-lato.

Peran orang tua menjadi krusial untuk memberikan pemahaman atau mengedukasi anak-anak terkait cara, aturan, hingga bahaya dari setiap permainan yang dimainkan termasuk lato-lato.

Baca Juga: Pesan Menohok Nafa Urbach terhadap Kasus KDRT yang Diduga Dilakukan Ferry Irawan

“Peran orang tua harus ada, bermain dengan aman harus diajarkan kepada anak. Aturan kapan main juga dijelaskan seperti saat memakai HP, agar tidak mengganggu lingkungan,” jelas dia. 

Sementara untuk larangan, ia secara tegas tidak setuju terhadap aturan larangan bermain lato-lato di sekolah yang saat ini mulai banyak diterapkan di beberapa daerah. 

Menurutnya, sekolah seharusnya bisa menjadi fasilitator bagi anak dalam menyalurkan hobi bermain lato-lato.

“Misalnya dengan menyelenggarakan lomba lato-lato yang tidak hanya sebagai sarana menampung hobi anak, tetapi juga mengajarkan bagaimana bermain secara jujur dan sportif,” kata dia. 

Selain itu, seharusnya sekolah punya peran untuk memberikan pengertian kepada siswanya akan aturan dan cara bermain lato-lato yang aman serta tidak mengganggu lingkungan. 

Sekolah seharusnya bisa mengingatkan, bukan hanya sekedar melarang karena berbahaya atau membiarkan saja. Namun anak-anak diingatkan bahaya lato-lato bagi diri sendiri dan orang lain serta kapan bisa bermain biar peka terhadap lingkungan. *** 

Load More