Sebab, iman dan amal saleh yang diridai Allah yang akan menjadi bekal kita menghadapi alam akhirat kelak.
Hadirin yang berbahagia
Meski amal menjadi bekal menghadapi kehidupan kekal di akhirat, tetapi kita jangan tergantung pada amal kita sendiri. Sebab, kunci meraih kebahagiaan akhirat bukan amal melainkan keridaan Allah. Tidak ada amal besar ketika tidak diridai oleh Allah.
Pun tidak ada amal kecil ketika diridai Allah. Inilah hakikat amal yang perlu dipahami oleh kita semua yang sedang berupaya mengerjakan amal saleh.
Karena itu, alangkah pentingnya kita mengetahui hakikat amal yang kita kerjakan. Tujuannya agar kita tidak sia-sia dalam mengerjakan suatu amal, tetapi jauh dari rida Allah. Hal ini tentu sangat merugikan.
Sidang Jumah yang dimulyakan Allah
Ibnu ‘Athaillah dalam kitab Hikam-nya memberikan pedoman bagi kita semua, sebelum mengerjakan suatu amal, hendaknya hati kita penuh dengan makrifat, ketauhidan, dan ubudiyah kepada Allah. Sesuai dengan bunyi ayat di atas yang mengistilahkan ketauhidan dan ubudiyah dengan istilah keimanan.
Ini artinya, syarat diterima dan diridainya amal baik adalah keimanan. Sehingga manusia yang tidak beriman dan tidak bertauhid kepada Allah, tidak memiliki kesempatan diterimanya amal.
Selanjutnya, Ibnu ‘Athaillah menjelaskan kadar makrifat, ketauhidan, dan ubudiyah seorang salik atau orang yang sedang menempuh jalan akhirat ditentukan seberapa totalitas dirinya bersandar kepada Allah.
Pertanyaannya, mengapa bersandar kepada Allah menjadi ukuran makrifat, ketauhidan, dan ubudiyah seorang salik? Sebab, orang-orang yang makrifat dan bertauhid akan selamanya melihat Allah. Sementara orang yang sudah melihat Allah, maka akan selalu dekat dan musyahadah kepada-Nya.
Baca Juga: Malaysia Sindir Timnas Indonesia vs Argentina: FIFA Matchday Bukan Momen Cari Popularitas
Ia akan fana dan tidak akan melihat perkara lain selain Allah. Sehingga yang terlihat dalam hatinya tak ada lagi selain Allah, aturan Allah, kekuasaan Allah, dan kehendak Allah.
Ketika terjerumus kepada satu kesalahan, orang yang bertauhid kepada Allah akan melihat kesalahannya itu sebagai perlakuan, hukuman, dan ketentuan Allah bagi hamba-Nya, yang tentunya menyimpan hikmah dan faidah yang harus disadari bahwa dirinya tidak maksum dan tidak terpelihara dari dosa.
Dimana kesalahannya itu harus menjadi perhatian agar tidak terulang, tidak boleh dilakukan lagi, serta harus hati-hati agar dirinya tidak terjerumus kepada kesalahan serupa.
Begitu pula ketika ada ketaatan yang keluar dari dirinya, maka ia tidak melihat dirinya unggul dan memiliki kekuatan. Sebab, ketaatan itu semata-mata merupakan daya dan kekuatan dari Allah. Sehingga dirinya tetap tenang terhadap takdir-takdir Allah.
Hatinya tetap dalam cahaya-cahaya Allah. Baginya, tidak ada perbedaan antara baik dan buruk, mudah dan susah. Sebab, dirinya tenggelam dalam samudera ketauhidan, tetap khauf dan raja’ (takut dan harap) kepada Allah.
Khauf dan raja’-nya tetap sama dan berjalan bersamaan. Ia tetap takut meskipun sudah melakukan ketaatan. Dan ia tetap berharap rahmat Allah meskipun sudah melakukan kesalahan.
Demikian seperti yang telah dikemukakan dalam untaian hikmah Syekh Ibnu ‘Athaillah berikut ini:
Berita Terkait
Terpopuler
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Paling Murah, Performa Handal Multitasking Lancar
- 5 Shio yang Diprediksi Beruntung dan Sukses pada 27 Maret 2026
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Empang Baru Melaju sebagai Desa Produktif Berbasis Kolaborasi dan Inovasi
-
Sinergi Warga dan BRI Bawa Desa Empang Baru Kian Berdaya Saing
-
Ekosistem Usaha Terintegrasi, Empang Baru Jadi Desa Ekonomi Mandiri
-
Sentuhan Program Desa BRILiaN Percepat Kemajuan Empang Baru
-
Desa Empang Baru Perkuat Ekonomi Lewat Bantuan BRI dan Digitalisasi Keuangan
-
BUMKam Mekar Sari Jadi Motor Penggerak Ekonomi Desa Empang Baru
-
Dari Ting Ting Jahe hingga Kerambah Apung, Empang Baru Kian Produktif Bersama BRI
-
Kolaborasi dan UMKM Dorong Kebangkitan Ekonomi Desa Empang Baru
-
Desa Empang Baru Tumbuh Dinamis Lewat Ragam Usaha dan Kolaborasi Warga
-
Terus Bergeliat, Pemberdayaan BRI Ungkit Perekonomian Desa Empang Baru