PURWOKERTO.SUARA.COM, SURAKARTA- ASEAN Para Games ke-11 tahun 2022 yang digelar di Kota Solo dibuka dengan torch relay atau estafet obor. Acara tersebut diikuti oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Sandiaga Uno), Walikota Surakarta (Gibran Rakabuming Raka), Wakil Walikota Surakarta (Teguh Prakosa), sejumlah pejabat daerah, perwakilan atlet, dan beberapa artis ibukota.
Menariknya, api yang digunakan dalam obor tersebut berasal dari Api Abadi Mrapen. Api Abadi Mrapen bberada di Desa Manggarmas, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Pengambilan api dilakukan secara estafet yang pertama kali diambil oleh Direktur III Bidang Pendukung Pertandingan Indonesia National Paralympic Organization Comittee (INASPOC), Hendri Oka. Kemudian, diserahkan kepada Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno. Lalu, diteruskan ke Bupati Grobogan, Sri Sumarni, dan terus berlanjut hingga bersemayam di Balaikota Surakarta.
Mengutip dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Api Abadi Mrapen konon telah ada sejak zaman Kerajaan Demak. Cerita yang berkembang, bermula, ketika Raden Patah ingin menata Demak sebagai pusat pemerintahan. Hal inilah yang mendorongnya melakukan ekspedisi dan dipimpin oleh Sunan Kalijaga.
Di tengah perjalanan, rombongan beristirahat di Mrapen. Karena tidak menemukan sumber air, kemudian Sunan Kalijaga bersemedi memohon kepada Tuhan agar diberi air untuk bisa diminum rombongan. Maka, ditancapkan tongkat wasiat miliknya ke tanah. Seketika, saat dicabut bukan air yang keluar, melainkan api.
Namun, berdasarkan penelitian dinamakan api abadi, karena diketahui nyala api tersebut tidak pernah padam. Hal ini disebabkan adanya peristiwa geologi, yakni keluarnya gas alam dari dalam tanah. Gas tersebut keluar tepat berada di titik tempat api tersulut. Maka, meskipun diguyur hujan sekalipun, api tersebut tidak pernah padam.
Api Abadi Mrapen banyak digunakan untuk acara-acara penting dan bersejarah, antara lain Pesta Olahraga Internasional Ganefo yang digelar pada 1 November 1963, Pekan Olahraga Nasional (PON), SEA Games, ASEAN Para Games, dan bahkan perayaan Hari Trisuci Waisak di Candi Borobodur.
Terlepas dari nilai sejarah yang ada, tujuan digunakannya api itu adalah sebagai simbol untuk mengobarkan semangat agar terus membara saat melakukan kompetisi maupun pertandingan, seperti layaknya Api Abadi Mrapen yang tak pernah padam.
Baca Juga: Jika Gempa Megatrusth Magnitudo 8,7 dan Tsunami Guncang Cilacap, Apakah Masyarakat Sudah Siap?
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
Terkini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
6 Sepatu Skechers Hitam dengan Review Bintang 5, Ringan dan Nyaman Buat Sekolah atau Olahraga
-
Media Lokal Kunci Percepatan Edukasi Ekonomi Sirkular di Daerah
-
Draymond Green Tolak Kontrak Rp443 Miliar, Buka Pintu Lebar Bagi LeBron James ke Warriors
-
Gelombang Panas Eropa Makin Mematikan: Krisis Kesehatan Hingga Ancam Ketahanan Energi Nasional
-
Mulai Hari Ini, Potongan Komisi Ojol Resmi Turun Jadi 8 Persen
-
Thomas Tuchel Waspadai Perlawanan RD Kongo di Tengah Krisis Lini Belakang
-
Prabowo: Kita Butuh Kritik, Tapi Jangan Biarkan Demokrasi Dibajak Pemilik Modal!
-
Inspirasi Yamaha Grand Filano dengan Gaya Racing Look yang Sedang Jadi Tren Modifikasi
-
Timnas Voli Indonesia Tembus Peringkat 43 Dunia Usai Segel Gelar Juara AVC Cup 2026