PURWOKERTO.SUARA.COM - Saat ini sedang ramai membahas lagu "Joko Tingkir Ngumbe Dawet". Meskipun sejumlah ulama mengkritik dan mengecam lagu tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tetap merequest lagu tersebut usai upacara HUT RI di istana negara. Meskipun pada akhirnya lagu tersebut tidak dinyanyikan oleh Farel Prayoga saat pentas Istana Merdeka, Rabu (17/8/2022).
Cerita ini tidak ada kaitan dengan kejadian tersebut.
Menilik catatan sejarah dari berbagai sumber, Joko Tingkir merupakan Raja atau Sultan Kesultanan Pajang yang memiliki nama lain Sultan Hadiwijawa atau Mas Karebet. Jika ditilik leluhur dari Presiden Jokowi, ternyata sangat berkaitan dengan peperangan dan kekalahan Kesultanan Pajang saat Joko Tingkir berkuasa.
Joko Widodo konon merupakan keturunan dari Ki Juru Martani, Patih pertama dan ahli strategi Kesultanan Mataram Islam di Kotagedhe. Saat itu Sultan pertama adalah Danang Sutawijaya atau dikenal dengan Panembahan Senopati yang merupakan putera dari Ki Ageng Pamanahan.
Selain sebagai patih dan penasehat, Ki Juru Martani sekaligus sebagai kakak kandung ibu dari Panembahan Senopati yang bernama Nyai Sabinah. Berarti pakdhenya Sultan Pertama Kesultanan Mataram.
Danang Sutawijaya sejak kecil telah dijadikan sebagai anak angkat oleh Sultan Hadiwijaya. Ia adalah seorang pemuda yang cakap, serta menguasai olah kanuragan. Selanjutnya, ia diajak oleh Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani untuk ikut sayembara mengalahkan Arya Penangsang yang diadakan oleh ayah angkatnya (Joko Tingkir).
Pada akhirnya, Danang Sutawijaya berhasil mengalahkan Arya Penangsang dan sebagai hadiahnya, Sultan Hadiwijaya memberikan Ki Ageng Pamanahan tanah di wilayah Hutan Mentaok, yang saat ini adalah Kotagedhe.
Setelah ayahnya wafat, Danang Sutawijaya menggantikan ayahnya memimpin wilayah tersebut dan Ki Juru Martani sebagai penasehat. perlahan-lahan wilayah yang dinamakan Mataram dibangun di Hutan Mantaok itu berkembang pesat. Bukan hanya perekonomiannya yang berkembang, tetapi juga armada perangnya.
Saat wilayah Mataram Kotagedhe lahir hingga berkembang, Danang Sutawijaya tidak pernah ke Kasultanan Pajang untuk bertemu ayah angkatnya. Sultan Hadiwijaya alias Joko Tingkir pun beberapa kali mengirmkan utusannya, namun anak angkatnya itu tetap tidak mau ke Pajang.
Baca Juga: Kronologi Dua Truk Kecelakaan di Tol Solo-Ngawi, 2 Orang Tewas
Ki Juru Martani Membantu Mengalahkan Pasukan Joko Tingkir
Peran Juru Martani terlihat saat Mataram berperang melawan Pajang. Konon saat itu Ki Juru Martani berangkat bertapa ke puncak Gunung Merapi dan meminta bantuan penguasa alam ghaib di sana.
Hasilnya, pada tahun 1582, ketika Pajang yang dipimpin Joko Tingkir hendak menyerang Mataram yang dipimpin Panembahan Senopati (Sutawijaya), Gunung Merapi tiba-tiba meletus. Laharnya menerjang pasukan Pajang, sehingga Joko Tingkir dan pasukannya mundur dan balik ke Pajang.
Setelah kegagalan tersebut, Joko Tingkir menderita sakit dan tidak lama kemudian wafat. Ia digantikan menantunya, yakni Arya Pangiri. Akan tetapi, Pangeran Benawa yang merupakan anak kandung Joko Tingkir tidak terima dan meminta bantuan kepada Mataram.
Setelah Mataram dan Pangeran Benawa menang melawan Arya Pangiri, tahta Kesultanan Pajang dipimpin oleh Benawa. Akan tetapi, kepeminpinan tidak berlangsung lama.
Pangeran Benawa memilih turun tahta dan fokus berdakwah menyebarkan agama Islam. Kesultanan Pajang yang dianggap penerus Demak, kemudian akhirnya berada di bawah wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram Islam yang saat itu dipimpin Panembahan Senopati yang didampingi oleh Ki Juru Martani sang ahli taktik sekaligus patih.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Terkini
-
4 Brightening Moisturizer Jumbo di Bawah Rp74 Ribu, Bikin Cerah Bebas Kusam
-
Jadi Sorotan Publik, Doyoung NCT Hadir di Acara Pemerintahan saat Wamil
-
Penghapusan KBMI 1 Masih Bertahap, OJK Pastikam Tidak Ada Unsur Paksa
-
WFA Pasca Lebaran 2026 Diberlakukan, 36 Ribu Pemudik Masuk ke Jogja
-
7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
-
Libur Lebaran Usai, Sistem Ganjil Genap Jakarta Kembali Berlaku Hari Ini
-
Wall Street Anjlok, Investor Dihantui Lonjakan Harga Minyak dan Konflik Iran
-
Jangan Asal Panaskan Opor Sisa Lebaran, Ahli Gizi Ungkap Bahaya Kanker Mengintai!
-
Nangis Tak Bisa Bertemu Anak saat Lebaran, Insanul Fahmi Sentil Wardatina Mawa Soal Eksploitasi
-
Pengemudi Fortuner Mabuk Tabrak Beruntun Sejumlah Motor di PIK, Dua Orang Tewas