/
Minggu, 04 September 2022 | 12:30 WIB
Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi di penghujung rekonstruksi di Duren Tiga, Jaksel, beberapa waktu lalu. (Suara.com)

PURWOKERTO.SUARA.COM - Satu persatu siasat Ferdy Sambo menghilangkan jejak kejahatan pembunuhan berencana Brigadir J alias Yosua terungkap. Bukti dan kesaksian tersangka lain yang terkumpul menguak kepingan puzle kasus ini.

Terbaru Komnas HAM menunjukkan temuan foto Brigadir J sesaat setelah pembunuhan di Rumah Dinas Duren Tiga. Foto itu menunjukkan Brigadir J terkapar di sebelah tangga.

Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mengatakan file foto itu ditemukan di tempat sampah komputer atau recycle bin. Ini artinya foto tersebut dihapus dari folder di komputer tersebut.

Foto Brigadir J dalam posisi tertelungkup itu ditunjukkan pada saat konferensi pers penyampaian hasil dan rekomendasi Komnas HAM kepada Polri, Kamis 1 September 2022. Foto Brigadir J yang terkapar setelah peristiwa penembakan diabil pada Jumat 8 Juli 2022.

"Jadi beberapa foto yang kami temukan khususnya di tanggal 8 Juli itu, kami temukan di tempat sampah, di recycle bin, di mekanisme tersebut. Jadi bukan diambil dari barang yang nggak dihapus, tetapi itu diambil dari barang yang dihapus," kata dia dikutip dari Instagram detikcom.

Sementara Komnas Perempuan mengungkap pengakuan Putri Candrawathi terkait peristiwa pelecehan seksual.

Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi mengatakan ada relasi kuasa dalam pengakuan Putri ketika mengaku dilecehkan Brigadir J di Duren Tiga. Ferdy Sambo sebagai suami memerintahkan Putri sebagai istri untuk mengaku sebagai korban pelecehan seksual.

"Perempuan korban kekerasan seksual di dalam menyampaikan pengalaman dan melaporkan kasus, sangat tergantung keputusannya pada laki-laki atau seseorang yang dominan dalam hidupnya," ujar Siti.

Namun skenario ini terbongkar. Penyidik pun menghentikan penyelidikan kasus ini yang semula dilaporkan Putri di Polres Jakakrta Selatan.

Baca Juga: Ayat Alquran dan Hadis Tentang Larangan Gibah Beserta Penjelasannya

"Dalam hal ini, ibu P tidak bisa menceritakan di awal-awal kasus sebenarnya di Magelang. Karena suaminya, Sambo meminta ia hanya menceritakan sebagian kecil dari apa yang sebenarnya terjadi dan meminta menyebutkannya di tanggal 8 Juli di Duren Tiga," kata Siti.

Dalam kesempatan yang sama, Siti juga mengatakan bahwa Putri mengaku depresi dan malu atas dugaan kekerasan seksual yang ia alami. Pengakuan itu disampaikan Putri ketika dimintai keterangan oleh Komnas Perempuan.

"Iya dari empat kali pertemuan dengan ibu PC dua kali kunjungan Komnas Perempuan dan dua kali permintaan keterangan Komnas Perempuan dengan Komnas HAM serta permintaan informasi atau keterangan dari tim psiko klinis Ibu P memang mengalami depresi," ucapnya dikutip dari Instagram KompasTV.

Load More