/
Rabu, 21 September 2022 | 21:11 WIB
Mahfud MD mengisi keynote speech di acara FGD ’Akselerasi Reformasi Kultural

PURWOKERTO.SUARA.COM Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menerangkan, reformasi kultural di tubuh Polri berjalan stagnan dan terkesan mundur. Ia berharap, polisi kedepan harus memiliki sikap profesional, humanis, dan menghormati HAM. 
 
“Perlu ada perubahan kultur di tubuh Polri. Moralitas anggota Polri perlu diubah, terutama terkait hedonisme dan tindak kesewenang-wenangan yang kerap ditunjukkan," ujarnya keynote speech di acara FGD ’Akselerasi Reformasi Kultural Guna Mewujudkan Polri Presisisi’ yang diselenggarakan oleh Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) di Jakarta 20 September 2022 dalam siaran tertulis resminya.
 
Menurut Mahfud MD, meski Polri memiliki aturan yang bagus, tapi jika tidak sejalan dengan kultur dan kebiasaan aparatnya, maka akan percuma. 
 
“Jangan ada arogansi dalam menyikapi masalah hukum di masyarakat. Tugas polri kan ribuan, tapi dinodai oleh satu kasus. Satker polri sampai ke desa-desa di Indonesia. Satu saja yang nakal, akan merusak seluruhnya, oleh karena itu harus dibersihkan,” jelasnya.  
 
Mahfud MD juga mengapresiasi langkah-langkah yang telah dilakukan Kapolri saat terjadi kasus Sambo. Ia mengungkapkan, hingga Juni 2022 persepsi publik tentang Polri selalu bagus, diatas penegak hukum lainnya. 

Menurutnya, setelah kasus Sambo, persepsi publik sempat turun, namun Kapolri bertindak memerintahkan jajarannya untuk bertindak tegas. 
 
"reformasi kultural di tubuh polri harus dilakukan dengan penguatan kompetensi teknis, leadership dan etik. Kalau tiga ini jalan, maka presisi akan jalan," jelas Mahfud MD

Ia menambahkan, bahwa presisi juga akan optimal, jika fungsi pengawasan berjalan dengan baik, dari internal dan eksternal. (Arif KF)

Load More