PURWOKERTO.SUARA.COM - Jika singgah di Cilacap Barat, khususnya di Dayeuhluhur dan Wanareja, kita akan menjumpai keramah-tamahan warga. Tak jarang tuan rumah akan menyuguhkan ketupat untuk tamunya. Dalam istilah lokal, hal ini disebut sedekah kupat atau ketupat.
Sedekah Ketupat merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat Cilacap Barat, terutama Kecamatan Dayaeuhluhur dan Wanareja. Tradisi ini bermula sekitar abad 16, ketika pasukan Raja Siliwangi hendak berperang melawan pasukan Kerajaan Demak.
Rombongan dari tanah Pasundan itu melintas di Kawasan yang kini dikenal sebagai wilayah Kecamatan Dayaeuhluhur. Masyarakat setempat lantas memberikan sambutan dengan memberikan bekal berupa ketupat untuk pasukan Siliwangi.
Sejak saat itu, tradisi menyuguhkan ketupat unutk tamu terus berjalan. Ini dilakukan sebagai pesan bawa masyarakat Dayaeuhluhur sangat mengagungkan para tamu. Masyarakat setempat akan menyambut, menjamu, dan menjamin keselamatan setiap tamu selama berada di Dayaeuhluhur.
Untuk melestarikan sekaligus mengenalkan nilai-nilai dalam tradisi sedekah kupat atau ketupat ini, Pemerintah Kabupaten Cilacap mengangkat sedekah kupat menjadi festival. Tahun ini Festival Sedekah Kupat digelar di Wanareja.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Cilacap, Paiman menjelaskan, menilik akar sejarahnya, Kecamatan Wanareja dan Dayaeuhluhur memiliki historis akan Sedekah Ketupat. Sehingga Festival ini dapat dilaksanakan di dua tempat itu secara bergiliran.
“Hari ini kita optimalkan local wisdom (kearifan lokal) tapi nanti akan kami evaluasi bagaimana ke depan pagelaran ini menjadi menarik, tanpa mengganggu ritualnya. Tetapi gelarannya akan kita bangun supaya layak menjadi event yang dinikmati masyarakat luas,” kata Paiman.
Desa Tambaksari Kecamatan Wanareja dipilih menjadi tempat pertama kalinya digelar Festival Sedekah Ketupat padad Rabu 21 September 2022. Tambaksari dipilih karena beberapa alasan, selain memiliki potensi wisata alam , juga ada dukungan masyarakat yang sangat besar salah satunya dengan membentuk kelompok sadar wisata.
“Peran masyarakat antusias, mereka semangat. Ini modal bagi kita untuk pagelaran berikutnya supaya lebih maju. Minimal masyarakat sudah oke, didukung lingkungan yang mempunyai potensi wisata alam yang bagus,” ucapnya.
Rangkaian sedekah ketupat diawali dengan kegiatan bersih-bersih desa dan jalan, pembuatan ketupat, hingga pelaksanaan sesuai jadwal yang ditentukan. Sejak pagi, warga menggantungkan ketupat pada tiap batas desa antara Kecamatan Wanareja dan Dayaeuhluhur.
Acara dibuka dengan sambutan dari sesepuh desa, dan pengucapan ijab sedekah oleh juru kunci. Setelah memanjatkan doa bersama-sama, ketupat tersebut menjadi menu santapan peserta doa bersama, termasuk warga yang melintas.
Adapun festival digelar dengan cara melibatkan warga untuk membuat gunungan menyerupai jolen sedekah laut. Selanjutnya gunungan ketupat ini dikirab menuju simpang tiga Desa Tambaksari yang merupakan perbatasan Desa Tambaksari dengan Majingklak, Kecamatan Wanareja.
Festival Ketupat ini membawa tiga pesan positif. Yakni ungkapan rasa syukur, kedermawanan melalui sedekah, serta pelestarian budaya. Sementara nilai ekonomi sebagai nilai tambah dari gelaran festival sedekah kupat akan diperbesar dengan memasukkan kegiatan adat ini akan dalam kalender wisata kabupaten maupun nasional.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Lolos Saja Belum Pasti, Pelatih Malaysia Sudah Pasang Target Juara Piala Asia 2027
-
Akun Telegram Catut InaEEWS BMKG Sebarkan Peringatan Gempa Palsu, Publik Diminta Waspada
-
7 Olahraga yang Cocok Dilakukan saat Puasa agar Tetap Bugar
-
Solidaritas Mokel Berjamaah, Mengapa Jadi Tren?
-
3 Pilihan Cream Blush Murah untuk Pemula: Mudah Dibaurkan dan Tahan Lama!
-
Performa Gacor, Brentford Perpanjang Kontrak Keith Andrews hingga 2032
-
Antisipasi Tren Kemunculan Gepeng Selama Ramadan, Satpol PP Kota Jogja Intensifkan Operasi
-
Kasus Anak di Sukabumi Meninggal Disiksa Ibu Tiri, Ibu Kandung Depresi karena Diteror
-
Diduga Jadi Sarang Prostitusi, Dua Akses Taman Kota Cawang Ditutup Permanen
-
Hector Souto Ungkap Alasan Panggil Nama-nama Baru untuk Piala AFF Futsal 2026