PURWOKERTO.SUARA.COM – Kesehatan mental menjadi isu krusial yang diperhatikan dewasa kini. Sebab hal ini menjadi muasal dari beragam hal yang jika tidak tertangani dengan baik bisa berdampak bagi penderitanya.
Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pandemi COVID-19 yang terjadi selama dua tahun terakhir justru telah memperburuk kondisi kesehatan mental dunia dan menciptakan krisis global untuk kesehatan mental jangka pendek dan jangka panjang.
Hingga kini, gangguan kesehatan mental masih menjadi salah satu isu kesehatan yang sangat diperhatikan di seluruh dunia. Merujuk data WHO lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional. Tidak hanya itu saja, WHO juga mencatat lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.
Lalu berdasarkan survei Populix yang dilakukan terhadap 1.005 laki-laki dan perempuan berusia 18 hingga 54 tahun di Indonesia menyimpulkan bahwa masalah finansial (59 persen) dan merasa kesepian (46 persen) merupakan faktor utama yang memicu munculnya gejala-gejala gangguan kesehatan mental. (Red. Indonesia’s Mental Health State and Access to Medical Assistance)
Ia menyatakan survei menunjukkan bahwa 52 persen masyarakat Indonesia, terutama perempuan berusia 18-24 tahun, menyadari bahwa mereka memiliki gejala gangguan kesehatan mental, baik dalam bentuk gejala ringan maupun berat. Mayoritas dari para responden juga menyadari bahwa telah mengalami gejala tersebut dalam 6 bulan terakhir.
“Berbagai masalah seperti kondisi perekonomian yang tidak menentu, rasa kesepian setelah sekian lama menjalani pembatasan sosial, tuntutan pekerjaan, hingga permasalahan hubungan yang timbul di masa-masa transisi endemi ini, tentunya turut mempengaruhi kesehatan mental banyak orang,” tutur Eileen Kamtawijoyo Co-Founder dan COO Populix saat dilansir dari Antara.
Gejala yang paling sering dialami responden dalam 6 bulan terakhir yakni diikuti perubahan kualitas tidur atau nafsu makan (56 persen), rasa lelah yang signifikan, energi menurun (42 persen), ketakutan atau kegelisahan yang berlebihan (40 persen), merasa bingung, pelupa, sering marah, mudah tersinggung, cemas, kesal, khawatir, dan ketakutan yang tidak normal (37 persen).
Gejala lain berupa kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi (35 persen), penarikan diri dari lingkungan sosial (30 persen), serta ketidakmampuan untuk mengatasi stres atau masalah sehari-hari (26 persen).
Beberapa responden juga merasakan gejala dalam tingkat yang lebih parah seperti mengalami nyeri yang tidak dapat dijelaskan (13 persen), marah berlebihan dan rentan melakukan kekerasan (10 persen), berteriak atau berkelahi dengan keluarga dan teman-teman (9 persen), dan ingin melukai diri sendiri (9 persen), dan mencoba bunuh diri (6 persen).
Baca Juga: Penjaga Rumah Lesti dan Billar Turut Dimintai Keterangan Kasus Dugaan KDRT
Melalui berbagai penelitian gejala gangguan kesehatan mental tersebut memperlihatkan sebagian responden mengalami gejala-gejala tersebut setidaknya 2 hingga 3 kali dalam seminggu (42 persen). Bahkan, 16 persen responden menyatakan mengalami gejala tersebut setiap hari.
Apabila terus dibiarkan, gejala-gejala tersebut dapat berpotensi mengganggu aktivitas dan produktivitas sehari-hari, bahkan dalam kasus yang lebih parah, mengancam keselamatan jiwa seseorang. Masalah finansial (59 persen) dan merasa kesepian (46 persen) merupakan faktor utama yang memicu munculnya gejala-gejala gangguan kesehatan mental tersebut.
Selain itu, masih terdapat juga beberapa faktor lainnya seperti tekanan pekerjaan (37 persen), trauma masa lalu (28 persen), tekanan dari pasangan (17 persen), tinggal di lingkungan yang buruk (13 persen), serta mengalami diskriminasi dan stigma (10 persen).
Berdasar survei ada beberapa solusi untuk mengurangi gejala gangguan kesehatan mental yang dirasakan, 73 persen masyarakat mengatakan mereka akan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, menjaga kecukupan tidur dan istirahat (55 persen), rekreasi (46 persen), melakukan aktivitas fisik agar tetap aktif (36 persen), bercerita kepada sahabat (34 persen), menjaga hubungan baik dengan orang lain (32 persen), membantu orang lain dengan tulus (27 persen), dan melakukan meditasi (19 persen).
Di tengah meningkatnya berbagai akses dan layanan kesehatan mental akhir-akhir ini, survei menunjukkan bahwa 69 persen masyarakat yang mengalami gejala gangguan kesehatan mental tidak pernah menggunakan layanan tersebut karena berbagai alasan.
Beberapa alasan utama yang mereka sampaikan adalah merasa tidak perlu untuk melakukan konsultasi (45 persen), meyakini bisa mencari jalan keluar sendiri (42 persen), biaya mahal (41 persen), dan malu untuk bercerita kepada orang tidak dikenal (33 persen). Namun demikian, sebagian masyarakat juga mengaku bahwa mereka tidak tahu adanya layanan kesehatan mental (27 persen).
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
Pilihan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Sesaat Lagi! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
Terkini
-
TAUD: Belasan Orang Terlibat Operasi Intelijen Serang Aktivis KontraS
-
Ai Ogura Gagal Finis di GP Amerika, Aprilia Evaluasi Reliabilitas Motor
-
Bye Skin Barrier Rusak! 4 Pelembab Gel Cream Mugwort untuk Kulit Kombinasi
-
6 Drama Korea JTBC Tahun 2026, Ada We Are All Trying Here hingga Apartment
-
Curhat Terakhir Praka Farizal Sebelum Gugur: Ungkap Situasi Lebanon Mencekam, Sering Masuk Bunker
-
Update Harga BBM Hari Ini 31 Maret 2026: Pertalite sampai Pertamax
-
KontraS Kritik Pelimpahan Kasus Andrie Yunus ke Puspom TNI: Berpotensi Ada Manipulasi Hukum
-
Prabowo ke Investor Jepang: Laporkan Masalah Langsung ke Saya, RI Siap Pangkas Regulasi
-
Tak Tergantikan! Ini Satu-satunya Pemain yang Tampil Penuh Selama FIFA Series 2026
-
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Minta Pasukan Segera Ditarik Pulang