/
Sabtu, 15 Oktober 2022 | 10:29 WIB
Presiden Jokowi memberikan arahan kepada pejabat utama Mabes Polri, Kapolda, dan Kapolres di Istana Negara, Jumat 14 Oktober 2022. (Twitter Jokowi)

PURWOKERTO.SUARA.COM - Gonjang-ganjing di tubuh Polri seperti tak ada habisnya. Belum selesai kasus pembunuhan berencana Brigadir J yang melibatkan Ferdy Sambo, muncul lagi kasus tragedi Kanjuruhan. Belum tuntas kasus Kanjuruhan, muncul lagi kasus narkoba yang menyerert Ijen Teddy Minahasa. Hattrick dalam istilah sepakbola.

Rentetan kasus yang menimpa institusi Polri menjadi pukulan telak. Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo bahkan kasus-kasus itu memengaruhi kepercayaan publik pada Polri. Kepercayaan publik pada Polri kian hari kian merosot.

Penurunan kepercayaan publik terhadap Polri sebagai aparat penegak hukum menjadi perhatian serius Presiden Jokowi. Sebab, hal ini bisa berimbas pada stabilitas keamanan, bahkan politik nasional.

Bentuk keseriusan presiden pada kondisi Polri ditunjukkan dengan mengundang pejabat utama Polri, mulai dari Kapolres, Kapolda, dan jajaran di Mabes Polri ke Istana Negara, Jumat 14 Oktober 2022. Total ada 559 personil Polri yang terdiri dari pejabat utama Mabes Polri, kapolda, serta kapolres.

Hal tersebut tertulis dalam Surat Telegram Rahasia (STR) dengan nomor: STR/764/X/HUM.1./2022 tertanggal Rabu 12 Oktober 2022. Mereka diminta datang tanpa membawa tongkat komando, topi ajudan, dan handphone. Mereka hanya boleh membawa buku dan pena.

"Saya perlu memberikan sejumlah arahan kepada jajaran Polri, salah satunya adalah agar Polri menjaga kesolidan dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat," ujar Presiden Jokowi melalui akun instagramnya.

Load More