Selebtek.suara.com - China saat ini sedang membangun teleskop terbesar di dunia untuk mempelajari letusan matahari.
Bernama Teleskop Radio Surya Daocheng (DSRT), teleskop ini akan mebantu ilmuwan China meningkatkan pemahaman tentang lontaran massa korona (CME), yang dapat menyebabkan kekacauan di Bumi.
DSRT sedang dibangun di sebuah dataran tinggi di Provinsi Sichuan, barat daya China. Susunannya terdiri dari 313 piring, masing-masing dengan diameter enam meter, membentuk lingkaran dengan keliling 3,14 kilometer.
Nantinya, teleskop tersebut mencitrakan Matahari dalam gelombang radio untuk mempelajari CME, letusan partikel bermuatan dari bagian atas atmosfer Matahari.
Jika CME menghantam Bumi, telusan itu bisa merusak jaringan listrik, telekomunikasi, satelit yang mengorbit hingga membahayakan keselamatan astronot.
CME sendiri sudah sering berlangsung. Fenomena ini bisa di lihat di wilayah kutub. Pada malam hari muncul aurora warna-warni yang bisa diamati dengan mata telanjang.
Rencananya, rangkaian satelit ini dijadwalkan selesai pada akhir tahun 2022. Pengembangan ini merupakan bagian dari jaringan pemantauan lingkungan luar angkasa berbasis darat yang disebut Proyek Meridian China.
Proyek ini juga mencakup Radioheliograph Spektral China untuk memantau aktivitas Matahari, yang sedang dibangun di Mongolia Dalam.
Radioheliograph akan terdiri dari 100 piringan dalam susunan spiral tiga lengan dan akan mempelajari Matahari dalam pita frekuensi yang lebih luas, daripada DSRT untuk penelitian lebih lanjut di China tentang Matahari, fisika Matahari, dan cuaca luar angkasa.
Baca Juga: WN Portugal Meninggal Usai Terjatuh dari Gunung Rinjani, Keluarga Tolak Autopsi
Seluruh proyek ini bertujuan untuk menjalankan hampir 300 instrumen yang ditempatkan di 31 stasiun di seluruh China.
Misi ini dipimpin oleh National Space Science Center (NSSC) dari Chinese Academy of Sciences dan melibatkan lebih dari 10 institusi dan universitas di China. (*)
Sumber: Suara.com
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik